Camino

…. It’s not about speed but endurance.

Dalam bahasa Spanyol, Camino berarti ‘jalan kaki’. Aku mengenal kata ini melalui buku Paulo Coelho – The Pilgrimage. Dalam bukunya tersebut dikisahkan bahwa Paulo didampingi Sang Pemandunya melakukan Perjalanan Ziarah menuju Compostela atau lebih dikenal dengan Ziarah Santiago de Compostela.

Aku cukup akrab dengan beberapa karya Paulo dan ketika mencernanya, aku menemukan bahwa karya-karyanya kebanyakan mengisahkan “Perjalanan.” Dan belakangan aku juga tahu, bahwa salah satu kegemaran Paulo Coelho dalam kesehariannya adalah Camino. Cerita-ceritanya juga selalu menawarkan sensasi “berjalan-jalan” yang membuat para pembacanya merasa terkesima namun penasaran, menerka-nerka sambil tercengang, bahkan tak sedikit yang menyerahkan diri untuk percaya. Dengan gaya bercerita seperti itulah, aku dan banyak pemerhati karyanya berakhir untuk menganguminya. Yay, It’s his maktub!

Life is a journey, right ? Di dalam hidup ini setiap pribadi/personal memiliki tujuan atau aku lebih suka mendefenisikannya sebagai ‘desire‘ yang Tuhan taruh di dalam hatinya with his/her core gift. Setiap pribadi pasti bahkan pernah minimal sekali untuk bertanya tentang desire tersebut beserta core gift-nya dan malah punya kerinduan untuk ingin atau akan atau mungkin sedang berupaya untuk mewujudkannya hal tersebut.

Lalu, hubungannya dengan Camino atau Perjalanan apa ya? Yah, untuk mampu mengenali desire nya tersebut, setiap personal harus melakukan Perjalanan. Tapi bukan hanya sekadar Perjalanan sih, tepatnya Perjalanan dengan sambal or gulai or rebusan Awareness. Agar apa? Yah agar mampu toh untuk memaknai dirinya, hidupnya. Apa untungnya sih mencari tahu dan menemukan si desire- desirean ntu? Yah, To Find your Place Under the Sun lah, gengs.

Afterwards, in the end of the day,  aku, kamu,  (jadi kita, eaaaaaak), bisa lantang ngomongnya,”Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Buen Camino, Fellas!