You had a busy day today

Tidak ada yang bisa menghalangi, jika sepasang kaki itu ingin pergi berjalan jauh meninggalkan. Apapun ceritanya mana mungkin menahan langkah-langkah itu untuk tetap tinggal. Belum pernah seseorang mengaku siap jika ditinggalkan namun siapa yang mampu melawan jika takdir sudah mengingatkan sedari awal bahwa pertemuan dan perpisahan itu adalah satu?
Awan-awan di depan mata sedang berarak, berpindah, digiring sang angin dari arah satu menuju arah yang baru.
Bukankah membosankan jika tinggal pada titik yang sama selamanya?
Bintang-bintang terlihat berseri, berkelap-kelip gemerlapan seolah-olah tak pernah gundah, seakan-akan tak ada kesedihan. Biarlah malam ini lagu-lagu pilihan pada playlist ‘tidur siang’ mengalun merdu mengiringi nyamuk-nyamuk tengil yang antri bergantian menerima donor. Terlihat daun – daun saling membelai, terdengar cabang – cabang saling beradu. Ah, yang kuat pasti tak mungkin menyusut. Tak mau kalah, sengaja bulan memilih menyabit, sedikit malu-malu banyak rindunya.

Bagaimana jika Kita yang menciptakan jalan?

Jakarta Barat, 1 November 2017.

 

Mereka menyebutku gila.“Kau tak waras, sudah kehilangan akal sehat,” ujar mereka. Teman-teman disekelilingku sudah kehabisan kata untuk pilihan yang telah aku buat saat ini. Bukannya aku tak mau berpikir ulang namun akal pikir dan batinku sudah terlebih dulu digumuli rasa antusias untuk melangkah menjauhi lengkung mainstream yang aku sudah rasakan selama berbulan-bulan belakangan. Aku tahu jelas bagaimana rasanya, dan aku juga sudah memutuskan- enggan melupakan setiap rasa getir yang aku alami saat melalui hari-hari yang berhasil membuatku kisut bak kulit jeruk nipis keriput. Aku baru 23, itu pun dua puluh dua hari lagi.

“Kau gila, G-I-L-A-A-K! Gila juga butuh modal,” kata Nju saat aku menceritakan rencana yang telah aku pikirkan belakangan ini.“Berhenti dari pekerjaanmu saat ini demi mengejar passion tanpa punya simpanan materi yang cukup sebagai modal bertahan hidup beberapa bulan ke depan itu tergolong dungu bukan hanya naïf lagi, Lynn”, sambungnya. Percuma namamu Marilyn, tapi otakmu tak berpikir secantik yang punya nama itu.

Aku Marilyn. Hanya Marilyn tanpa Monroe, Nju. Ayolah, kita baru 23, kau lewat tiga bulan dan aku baru genap pada dua puluh dua hari mendatang. Aku datang mengunjungimu bukan untuk digurui olehmu. Kita sepaham kalau hidup bukan melulu soal makan. Aku tidak takut kelaparan dan Tuhan itu Maha, bukan? Pastilah Dia memelihara dengan caranya, melalui apa pun dan siapa pun. Urusan perut sejengkal itu gampanglah diurus-Nya.

Iya Tuhan itu memang Maha. Maha seenaknya, seenaknya memberi, seenaknya mengambil. Dia memberi kita orang-orang untuk kita sayangi dan Dia juga yang mengambil mereka dari sisi kita. Seenaknya Dia, ujarnya. Dia terbawa perasaan kalau diungkit kata “tuhan” sebab belum berselang lama orang terpenting dalam hidupnya berpulang kepada Tuhan.

Aku hanya ingin adil pada diriku sendiri, Nju. Jiwaku kehilangan gairahnya. Mataku tak bersinar setiap kali melakukan tugas-tugas dalam pekerjaan itu. Aku sudah mencoba untuk menikmatinya dan mensyukuri setiap batang hari yang datang silih berganti. Bahkan aku menyadari betul bahwa hari ini merupakan jawaban dari doa-doaku di hari-hari kemarin. Namun seberapa keras aku telah mencoba, lagi-lagi aku gagal menikmatinya. Alih-alih menikmati, aku harus menyeret diriku setiap pagi untuk bangun bahkan mensugesti diriku bahwa aku mampu menjalani hari ini. Namun di penghujung hari yang ada hanya derai-derai tangisan batin di dalam keheningan. Aku tidak dimaksudkan untuk pekerjaan ini dan sebaliknya. Bukan salahku ataupun pekerjaan ini, hanya saja kami benar-benar tidak dimaksudkan untuk satu sama lain.

Aku hanya ingin menata diriku kembali. Setiap kali aku bercermin semakin pula aku tidak mengenali sosok yang dipantulkan oleh cermin itu. Kau tak lihat, penampilanku sekarang sudah tak mencerminkan usia kita saat ini. Aku layaknya ibu dengan tiga orang anak lanang, tak lagi bersemangat dan sayu. Bak mawar yang layu sebelum berkembang karena digerogoti durinya sendiri.

Sebenarnya aku tak hanya sekedar ingin mengejar impian yang kita agung-agungkan dulu di bangku sekolah menengah. Ini bukan hanya perihal passion. Ada hal yang berubah tentang caraku memandang segalanya karena per·spec·tive baru yang terasah oleh hal-hal yang aku sendiri alami atau terjadi di sekelilingku. Entah, dunia ini tampak asing bagiku, entah, atau aku yang sudah tak lagi sama.

“Lalu apalagi rencanamu setelah penantian resign-mu terpenuhi?” tanya Nju.

Rencananya adalah aku tak punya rencana, jawabku. Aku hanya ingin benar-benar menikmati setiap harinya, tidak ada perasaan terpaksa. Aku benar-benar ingin mendengarkan setiap pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari kedalaman jiwaku.

Aku ingin pergi melangkah ke tempat aku ingin pergi. Aku ingin mengamati orang-orang yang berlalu dari balik kaca-kaca busway, pada setiap halte pemberhentian, pada kereta-kereta maupun stasiun-stasiunnya yang tak pernah sepi hingga larut malam.

Aku suka mengamati punggung orang-orang yang lalu-lalang pada tempat-tempat umum itu dan membiarkan diriku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tentang ekspresi wajah apa yang ada dibalik punggung itu, apakah kelelahan seorang sarjana muda yang sudah mondar-mandir mengantarkan curriculum vitae dari perusahaan satu ke perusahaan lain, sebuah kecemasan seorang ibu muda yang terlambat menjemput anaknya yang baru hari pertama masuk sekolah dasar, senyuman manis dari seorang wanita yang menerima pesan WhatsApp dari pacarnya, atau raut wajah yang serius pada wajah seorang gadis remaja yang duduk pada urutan bangku busway paling depan bersebelahan dengan jendela dengan buku The Alchemist-nya. Gadis itu mungkin sedang bertanya-tanya apa yang menjadi legenda pribadinya. Aku merindukan semua hal–hal tadi, hal yang tidak bisa aku peroleh selama hampir setahun ini karena rutinitas kehidupanku enam hari dalam seminggu hanya sebatas rumah pondokan dan kantor yang jaraknya tak lebih dari lima belas menit berjalan kaki.

Aku mencoba melepaskan setiap hal yang telah mengikatku selama ini tanpa izin atau dengan se-izinku. Aku ingin bebas lagi. Anggap saja aku sedang mendefenisikan kehidupan itu sendiri dengan defenisiku. Tiga hal ini yang sedang aku minta diajari oleh kehidupan padaku, dengarkan:

AJARI AKU

Ajari Aku

Untuk mengeja perjuangan, harus terbata-bata dulu  pada huruf-huruf ketekunan

Ajari Aku

Untuk memahami  bahwa pelangi tanpa hujan, adalah mustahil,

AjariAku
Untuk menemukan, didahului kehilangan.

Dengan nyaring kubacakan beberapa baris puisi itu dihadapannya. Nju terpelongo. Tanpa mengomentari apa-apa, dia bersiul dan langsung bernyanyi,“ When she was just a girl; she expected the world; but it flew away from her reach; so she ran away in her sleep,” dan pada suasana yang seperti de javu itu itu mengalunlah “Paradise” dengan sangat merdu bagai nyanyian sang malaikat.

Kau tahu, Lynn, seperti yang kau katakan tadi entah dunia ini yang menjadi asing atau kau yang tak lagi sama. Tapi ada satu yang selalu sama darimu, ada bagian darimu yang dari awal perkenalan kita membuatku tertarik seperti sebuah daya magis namun aku tak pernah bisa untuk mendeskripsikannya menjadi sebuah kata.

Apakah itu sebuah pujian, Nju? tanyaku kesenangan. Dia tidak mengiyakan. Pertemanan kami memang aneh sejak awalnya. Kami jarang memberi pujian satu sama lain. Kami juga tidak pernah memberikan hadiah pada setiap moment-moment penting. Kami bahkan jarang berfoto bersama, kami hanya punya tiga buah foto selama sebelas tahun pertemanan kami. Kami juga tidak suka membahas latar belakang keluarga kami masing-masing. Pada setiap  pertemuan, yang kami sering angkat keseringan perihal impian-impian kami kedepannya, para pelaku seni yang kami idolakan, dan manusia-manusia layak mana yang kami pantas anugerahi nama seniman dengan inspirasi karya-karyanya. Selebihnya kami akan mengamati lalu-lalang orang-orang dengan tingkahnya yang berlalu melewati tempat kami duduk menongkrong. Seringkali kami menyusun kisah dengan materi sesuai raut wajah dari lalu-lalang orang-orang tersebut dan berujung pada tawa lepas yang terbahak-bahak. Pertemanan kami aneh namun entah apa yang membuatnya tumbuh hingga belasan tahun.

Aku manusia, Nju. Aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri. Bukannya tidak rasionalis, siapa yang tak butuh uang, tapi aku bukan hanya makhluk ekonomi. “Aku manusia Nju”, tegasku sekali lagi. Aku tidak tahu apakah sekarang aku sedang menghakimi. Namun, ini bukan kehidupan yang ingin aku banggakan. Kejenuhan melanda ketika aku harus mengerjakan hal-hal yang tidak aku minati dan hari-hari liburku harus didikte oleh tanggal merah di almanak. Aku benci didikte, Nju. Hatiku terasa terperas dengan rasa yang kian waktu membuatku tak nyaman.

“Huh, apa kau baru menyadari persoalan dikte-mendikte, Lynn?”tanyanya. Itu sudah cerita klasik. Sangkin klasiknya orang-orang menganggap hal itu lumrah, sudah biasa. Berapa banyak orang-orang masa kini menghidupi hidupnya, Lynn? Bisa terbilang Lynn, orang-orang yang betulan menjadi manusia, mencari tahu makna hidup dan memaknainya. Kebanyakan orang memilih menjadi robot, masa depan mereka dipilihkan dan mereka diberi “ramuan ajaib” untuk mengiyakan semua aturan-aturan tanpa sekalipun mempertanyakan kebenarannya, mengikuti mainstream istilahnya. Mau enggak mau kita juga terseret ke dalamnya, sebab kita berada di zaman ini dan tumbuh besar bersama mereka. Orangtua mendikte masa depan anaknya, pemerintah mendikte peraturan-peraturan buat warganya, para bos mendikte budaya-budaya kerja bagi buruhnya. Area mana lagi dari masyarakat ini yang belum diprogram dikte emangnya? Bahkan kau sadari saja atau tidak, menu makananmu saja sudah didikte Lynn. Kalau mau lengkap ada nasi, lauk-pauk dan sayur mayurnya dalam ukuran jumbo, tersedia Paket A, untuk nasi dan lauk pauk saja silahkan pilih Paket B, untuk sayur-mayur tanpa nasi dan lauk, hanya dengan tambahan sedikit micin, ambillah Paket C. Sudahlah, lupakan untuk menjadi berbeda, ikuti saja aturan mainnya. “Kita kalah, Lynn,” bisiknya.

Tapi Nju, sanggahku, “apa kau ingat bait-bait puisi ini?”

*)  I shall be telling this with a sigh

    Somewhere ages and ages hence:

   Two roads diverged in a wood, and I…

   I took the one less traveled by,

  And that has made all the difference.

“Aku baru 23, Nju, itu pun genap dua puluh dua hari mendatang”, bisikku.

Catatan:

*) Puisi The Road Not Taken Karya Robert Frost

mīˈself,mə-

 

ys
Pernah seseorang bertanya padaku mengenai hal apa yang tidak aku sukai selama aku dibesarkan di lingkunganku. Mengingat banyaknya rasa nyaman yang aku terima selama ini, sangatlah mudah untuk melontarkan jawaban “tidak ada”. Jawaban tersebut bukan berarti seiring perjalananku, aku tumbuh mulus tanpa memar yang membekas.
Omong kosong jika aku mengelu-elukan kesempurnaan.

Perkara malam rabu kemarin membuatku kembali terhubung dengan anak kecil di dalam diri. Rupanya kejadian tersebut berhasil menjadi saluran tempat ingatan – ingatan itu membesarkan diri. Berjalannya waktu, aku lupa bahwa ternyata ada hal yang selalu tinggal dan tak mau pergi dari pikiran tiap – tiap orang, mengendapkan diri di alam bawah sadar, sampai ada yang membangunkan tidurnya lalu memaksanya kembali berenang ke permukaan.

Ternyata benar, tekanan yang benar pada tempat yang salah mampu menghasilkan memar. Perbincangan malam itu menimbulkan perkara. Aku tidak dikenal sebagaimana aku mengenal. Dan itu mengecewakan.

Pada akhirnya, memang hal yang paling asyik adalah menjadi diri sendiri.
Pada akhirnya, memang hal yang paling asyik adalah menjadi diri sendiri.
Pada akhirnya, memang hal yang paling asyik adalah menjadi diri sendiri.

Teruntuk aku :

Terima kasih pada satu-satunya yang selalu ada dari permulaan hingga nanti pada kesudahan.

 

 

 

Kepada Scorpiusku

 

 

Scorpius kecilku,

Aku menuliskan ini sebagai alternatif lain dari sebuah surat yang mungkin sudah konservatif di era ini.

Aku menyertakan lagu diatas sebagai cara untuk menyampaikan apa yang tidak bisa aku katakan secara langsung padamu.

Scorpius kecilku,
Jika kau ingin, kapanpun kau bisa menjadikanku Pil tidurmu!

Anak itu memilih lahir sebagai seorang Scorpius. Dilambangkan oleh seekor kalajengking, punya kaki delapan, dan sangat kuat. Aku mengatakan ini bukan berarti aku mempercayai ramalan zodiak,  hanya saja jika ingin mendeskripsikan nya, gambaran kalajengking tadi tepat buat karakternya.

Sejak dalam kandungan, dia memang sudah tampil berbeda. Mama mengakui hal tersebut. Orang tua zaman dulu, tidak concern buat mengikuti  pemeriksaan USG untuk mencari tahu apa jenis kelamin calon bayinya. Mama hanya menebak-nebak dari kejanggalan-kejanggalan yang mama rasakan selama mengandung.

Jika dulu saat mengandung aku mama cuma ngidam ‘sate padang’, namun saat mengandung dia mama sangat antimainstream, ngidam ‘merokok’.

Mama tidak pernah merokok, hanya memikirkan batangan itu terselip pada sela jari telunjuk dan jari tengahnya saja pasti sudah sangat janggal. Namun,’ bawaan baby ,’ ya mau gak mau, ya tetap dicoba. Ditambah lagi ucapan dari mbah tukang urut yang terdengar meyakinkan, “ini nih bayinya pasti lanang, lihat aja posisi perutmu rendah.”

Mama tersenyum aja. Tapi di dalam hati ia juga mengamini semoga bayinya laki-laki. “Biar sepasang”, pikirnya. Namun selain mengamini hal itu, baik kelak bayinya laki-laki atau perempuan, bagi Mama, seorang anak bagaimanapun bentuknya tetaplah sebuah anugerah.

Meskipun sepakat setiap anak adalah anugerah, Bapak juga tidak serta merta abai. Kerinduan hatinya memiliki anak laki-laki saat itu sangatlah besar.

Sembari merenungkan tanda-tanda yang ada, ia memikirkan sebuah nama. Seberapapun keras ia mencoba berpikir fair, yang mendominasi benaknya tetaplah nama seorang anak laki-laki. Ia menyimpan satu nama di hatinya, nama tersebut bermakna ‘Api’.

Ternyata realita berkata lain, yang lahir adalah bayi perempuan. Waktu itu bulan Oktober. Dalam Kalender Liturgi Katolik, Oktober ditetapkan sebagai bulan Rosario yakni untuk mengenang kekuatan berdoa kepada Allah melalui Sang Perawan Maria dengan sarana rosario di tangan.
Setelah memikirkannya secara mendalam, akhirnya Bapak memutuskan untuk memberi nama tengah bagi nya yakni ‘Maria.’ Selain tidak punya pilihan karena nama depannya sudah nama anak laki, Bapak juga ingin bayi perempuannya kelak tumbuh menjadi perempuan setulus sekaligus setegar Maria.

Bapak ingin jika ia menyandang nama itu, kelak ia boleh menjawab panggilan Allah dalam hidupnya setulus Maria menjawab panggilannya, ” Sesungguhnya, Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan Mu.”

Bapak juga ingin, sebagaimana Maria mampu tegar sekalipun harus menyaksikan derita anak terkasihnya melalui jalan dolorosa, begitu pula bayi perempuannya, Ia harapkan supaya mampu tegar dan memilih untuk tidak melarikan diri dari apapun persoalan hidupnya kelak.

Demikian ia dinamakan.

23 tahun berlalu.

Scorpius itu telah menjadi dewasa namun terjebak dalam labirin buatannya sendiri.

Ia membangun dinding-dinding labirinnya sendiri. Ia menutup diri dan menjauh dari dunia yang tampak asing baginya. Ia selalu merasa dirinya bukan bagian dari dunia, hingga akhirnya Ia tertidur sampai lupa bahwa dirinya Scorpius.

Ia lupa, Scorpius memiliki kemampuan beradaptasi yg tinggi pada kondisi ekstrem, yg seharusnya mampu ia gunakan buat menghadapi dunia yang tampak asing tadi.

Ia lupa, bahwa Scorpius diperlengkapi dengan sengatan sebagai senjata, yang artinya Kekuatan itu ada dalam dirinya sendiri.

Dan yang paling Scorpius tidak ingat bahwa ia mampu bercahaya di dalam kegelapan dan satu-satunya cahaya itu adalah dirinya sendiri, satu-satunya yang akan menuntun dirinya sendiri keluar dari jebakan labirin tersebut.

Merayakan Kehidupan

20191212_181412

Aku sengaja membiarkan gelombang suara Bono menjadi yogurt plain bagi telingaku hari ini. ‘Love is bigger than anything in its way’, desahnya. Semenjak pagi tadi, kata-kata bermilitan menyusun dirinya dalam pikiranku dan mendesak untuk diproklamasikan.

Kejadian kecelakaan yang saya alami rabu sore kemarin ternyata mampu memberikan sedikit sengatan hingga kata-kata tersebut akhirnya mengibarkan bendera putih serta merta menyerahkan diri dan keluar dari gua persembunyian mereka yang entah dimana sekian lama ini. Aku tidak ingat sama sekali bagaimana posisi jatuh kemarin, yang membekas di ingatan hanyalah bagaimana aku sekuat tenaga menarik kedua rem tangan sepeda besiku di aspal licin saat langit sedang berhujan, merasakan kedua rodanya berputar tidak karuan untuk menghindari seorang pria yang melakukan u – turn mendadak di tempat yg tidak seharusnya. Aku kehilangan keseimbangan dan berakhir dengan jatuh berpelukan bersama sepeda besiku. Kaca helmet terlepas dan barang-barangku berserakan di jalanan. Pria tersebut tertegun karena shock namun tidak mengulurkan bantuan. Aku bangkit sendiri, seperti tokoh heroik Marvel yang tak mungkin mati hanya dengan sekali hantaman. Tak ada rasa sakit pada sekujur tubuhku sehingga aku masih meneruskan perjalanan menuju tempat yoga ku. “Aku harus tetap mengikuti kelas hari ini”, pikirku. Aku mengendarai sepeda besi yang sudah tidak fit lagi.

Hujan masih terus meluncur, sampai akhirnya aku merasakan perih. Kaki kiriku berdarah. lutut kiriku memar dan akhirnya menyadari bahwa dua lapis celana yang kupakai sudah sobek. Aku memutuskan berhenti lalu putar balik menuju rumah. Tapi sepeda besiku sungguh sudah ‘sakit’. Sesegera mungkin aku membawanya untuk mendapat pertolongan pertama. Dokternya mengambil alih, aku dipersilahkan menuju ruang tunggu. Sembari duduk, di sana aku menyadari banyak hal. Ingatan-ingatan saat aku beberapa kali bersinggungan dengan kematian bermunculan. Pada moment itu juga satu ayat pada Surat Petrus pun ikut bersuara, ‘Sebab: Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunganya pun gugur (1 Petrus 1 :24). Aku telah melakukan banyak hal dan juga mengira-ngirakan banyak hal yang akan aku peroleh ke depannya, namun bukankah jika sudah genap waktunya, segalanya akan berlalu?

Seringkali aku mencari hal atau alasan apa yang membuatku perlu menyampaikan rasa syukur pada satu waktu. Selama ini, aku terbiasa membuat ukuran-ukuran supaya hal yang ini, atau hal yang itu layak untuk disyukuri. Ternyata, kehidupan itu sendiri sudah cukup menjadi sebuah alasan mengapa perlu untuk mengucap syukur setiap hari. Waktu untuk hidup memang terbatas, namun keterbatasan itulah yang seharusnya mengajarkan bahwa satu hari pun tidak boleh berlalu sia- sia.
Carpe Diem,” katanya.

Setiap orang memiliki kisah hidup pribadi dan setiap kisah dilukiskan berbeda oleh kehidupan bagi masing-masing orang. Aku telah memikirkannya, menjadi dewasa, setiap pertumbuhannya akan bersinggungan dengan banyak hal-hal yang menyulitkan. Ada banyak melodrama dalam kisah hidupku. Seperti kehilangan satu-satunya pamanku dengan cara yang tidak layak, mengetahui bahwa seorang bibi ku menderita gejala Alzheimer, bahkan nyaris celaka dalam beberapa moment. Tetapi bahkan jika tidak demikian melodramatik, setiap orang, pada tahap tertentu dalam hidupnya, akan berurusan dengan hal-hal yang menyulitkan, dengan kesedihan, dan dengan bahaya-bahaya dalam hari-harinya entah oleh karena kelalaian diri sendiri maupun disebabkan oleh orang lain.

Kita cenderung menganggap bahwa sesuatu disebut agung adalah ketika banyak hal-hal hebat dan heroik yang sudah dilakukan. Kecelakaan ini membuatku berpikir, ternyata mengubah kesedihan dan menjadikannya sebuah pelajaran untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya sudah benar-benar menjadi sebuah harapan. Kecelakaan telah bertransformasi menjadi tindakan yang menghasilkan rasa syukur. Bukankah ini sudah cukup untuk disebut tindakan agung yang diajarkan oleh Kehidupan?
Mari rayakan kehidupan!

MAKTUB

"Aku mempercayainya sebagai maktub."
4. hujan

Dua belas, dua belas. Tanggal dan bulan hari ini tidak bersebrangan melainkan melekat pada bilangan yang sama. Ini pastilah bukan kebetulan, pun bukan pula perjanjian kosmik untuk membuat orang banyak mengistimewakan hari ini semisal sebagai tanggal jadian, atau tanggal pernikahan bahkan rencana melahirkan. Namun apabila hari ini dijadikan tanggal khusus untuk perayaan-perayaan penting sekalipun, aku bilang itu bukanlah sebuah kebetulan. Aku mempercayainya sebagai maktub. Segala sesuatunya sudah tertulis. Apa , bagaimana, kapan bahkan kenapa harus terjadi pun sudah ada alasannya. Jadi, “kebetulan” sudah tidak punya ruang lagi. Bila kau belum setuju, mari menunggu waktunya saja. Sebab saban hari pun aku demikian, belum percaya. Seiring waktu berjalan, akupun di giringnya utk belajar. Waktu benar-benar menjadi guru yang baik. Sangat akurat untuk menajamkan pikiran seorang murid. Percayalah, akan datang waktunya cara mu memaknai maktub akan berbeda dari pandangan awalmu.

Aku tidak ingin gegabah mendefenisikan hari ini berdasarkan peristiwa yang terjadi di dalamnya.

Aku tidak ingin menyebutnya sebagai hari yang romantis hanya karena hari ini aku memiliki hari yang berkualitas dengan kepala departemen ku. Kami berdua menyenangi aroma petrikor yang masuk lewat kaca jendela mobil yang terbuka, menikmati berburu barang natal berdua, dilanjutkan makan malam berdua di rumah makan khas daerah, sambil berbagi rahasia- rahasia kecil diri kami sembari diiringi suguhan lagu “let it be me” nya everly brother dari seorang musisi jalanan berdarah Medan.

Aku juga tidak akan menyebutnya sebagai hari yang mengerikan walaupun saldo rekeningku terpotong padahal jumlah nominal yg ditarik tidak keluar dari mesin ATM nya.

Aku juga berjanji tidak mau menyebutnya sebagai hari yang jalang sekalipun tadi aku menerima “body shaming” dari dua orang yang berbeda dan mendapat “pelecehan fisik” walau sudah se-syariah mungkin pakaianku dari seseorang yg bahkan tidak masuk kriteria “the man” versiku.

Aku mempercayainya sebagai maktub, sebab hari ini aku menerima hal-hal yang sebenarnya mewah namun berbungkus sederhana.

Aku menikmati moment berkualitas yang mungkin besok tidak dapat diulang kembali.

Aku juga belajar untuk tidak panik dalam keadaan malang, bersuara pada apa yang menjadi hakku, dan belajar melepaskan jika genggamanku sudah penuh.

Dan semua hal yang terjadi hari ini, memang demikian dimaktubkan untuk hari ini.

 

Telaga Indah, 12. 12. 2018

 

Aku pergi, terimakasih.

Aku meninggalkan Pulau ini,

Yang genteng-genteng rumahnya ditambal berlapis-lapis bak lapis legit kesukaanku

Yang sungai dan kali nya dihuni sampah berserakan walau baru habis dibersihkan

Yang hujan dianggap bukanlah sebuah kemurahan Tuhan namun sebuah musibah yang akan membuat rumah dan harta terendam banjir

Aku meninggalkan Kota ini, bukan karena aku tidak mencintainya

Aku meninggalkan Kota ini malahan karena cintaku padanya tak mampu dibendung jika harus tetap bertahan

Aku hanya tidak ingin menambah kepadatan yang merayap

Aku tidak ingin Pulau ini tenggelam bersama seratus juta penduduknya lantaran berat bebannya

Aku meninggalkannya karena aku mencintainya.

 

 

Perempuan & Badai yang Mengamuk di dalamnya

 

3. pr Sumber Foto : https://pixabay.com

 

Mendung. Padahal ini selasa. Langit hari ini abu-abu – kelabu, hampir menyerupai perasaannya saat ini. Ada badai yang sedang mengamuk di dalamnya dan bertarung melawannya. Hanya saja dia tetap terlihat tenang, tapi bukan berarti dia sudah menang. Kelihaiannya untuk tetap terlihat tenang walau dirundung gundah sudah semakin hebat semenjak dia terlatih oleh masalah-masalah yang datang tanpa jeda belakangan hari ini. Mungkin ungkapan practice makes perfect sungguh dia rasakan saat ini, yah the more you practice, the better your skills are, right?

Langit semakin mendung. Ini bukan tentang matahari yang ragu-ragu untuk unjuk diri, bukan pula tentang hujan yang punya nyali. Ini memang bulan penghujan. Wajar saja langit sering terlihat murung. Jangan sekali-kali mengingat November tanpa hujan-hujannya. Bukankah yang menambah spesialnya November itu adalah hujan-hujan yang awet dan dinginnya yang pekat? Justru itu yang membuatnya semakin memikat kan?

Dia masih bertarung dengan badai yang di dalamya. Masih ada 8 jam lagi untuk hari ini dan 112 jam untuk kedepannya. Apakah badai itu akan memuncak atau menurun, tidak ada yang tahu. Yang pasti dia tetap bertarung dan melawan namun dengan tenang.
Untuk siapa pertarungan ini sebenarnya? Untuk dirinya sendiri. Supaya apa? Supaya nanti tiada satu pun yang akan disesalkan.

 

Selasa, H-14 Sebelum Kemerdekaannya.

Empat, Perempuan, Puisi, dan Buku.

EMPAT

Dan empat bukanlah bagian tengah, namun selalu sebuah awal bagiku.
Belakangan ini saya baru menyadarinya. Semuanya berhubungan dengan empat. Urutan-urutannya dimulai dengan empat.

PEREMPUAN

Perkenalan saya dengan dunia membaca sebenarnya bukan berawal dari inisiatif sendiri,  melainkan dari antusiasme yang bergelora di sukma seorang perempuan, yang saya panggil; Ibu. Sampai sekarang saya masih ingat – kenangan itu, saat usia saya masih seumur jagung, ibu saya memperkenalkan huruf demi huruf, mengejanya hingga membentuk kata, dan membuatnya sempurna menjadi sebuah kalimat. Usia empat tahun, saat itu saya ingat bergelut dengan buku bersampul biru dengan huruf abjad besar (baca: kapital) dan kecil disertai beragam gambar buah-buahan yang berada di sebelahnya menjadi kisah pembuka saya menjalin perkenalan dengan dunia membaca. Dengan kesabarannya yang seluas hamparan padi yang menguning pada pematang-pematang sawah di kampung halaman, Ibu berhasil membuat saya menjadi seorang pembaca yang lugu nan polos hatinya. Berkat ketekunannya mengajari saya membaca setiap malam di rumah, saya bahkan tidak lagi ketakutan untuk berteman dengan huruf-huruf sejak mulai mengecap pendidikan dari jenjang taman kanak-kanak.

PUISI

Pelajaran Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang paling saya tunggu-tunggu kelasnya setiap hari di Sekolah Dasar. Bukan karena otak saya memang kurang/agak lamban/sedikit sulit/dan apapun istilahnya untuk memahami angka-angka (baca: matematika)- saya tidak pernah membenci angka-angka, namun memang kata-kata lebih memikat pikiran saya dan membekas dalam sanubari saya. Bagi saya, kata-kata sungguh punya daya pikat yang membuat saya rela tersesat dan terjerembab di dalamnya. Wah, nikmat saja, seperti pahitnya kopi yang dibiarkan melekat di lidah pecandunya.

Duduk di kelas tiga, saya telah menghasilkan satu buah puisi dan mempersembahkannya di depan kelas untuk tugas kelas Bahasa, di hadapan penikmatnya saat itu, guru dan 48 orang teman sekelas saya. Saya ingat karya itu dengan judulnya 23 November, terdengar nyaring dan lantang menggema di ruangan kelas-seperti yang di perintahkan di buku-buku bacaan; bacalah dengan nyaring!

Dan yang membuat saya semakin jatuh cinta pada kata-kata, dalam hal ini Puisi adalah tak lepas dari peran seorang perempuan juga, Ibu Pasaribu begitu dulu kami sekelas memanggilnya, guru pelajaran Bahasa yang merangkap wali kelas empat saat itu. Ibu Pasaribu membacakan puisi “Aku”- karya Chairil Anwar yang paling dekat dengan rakyat karena merupakan salah satu karyanya yang paling sering dicantumkan dalam buku-buku Bahasa. Pementasan puisi pertama yang berhasil membuat saya terpelongo dan mesem-mesem sendiri bak remaja yang dilanda kasmaran. Arigatō, Bu.

BUKU

Buku: Bukan sekadar kumpulan kata yang menjelma kalimat, melainkan sebuah ‘senjata’ bertanya untuk melakukan penjelajahan diri dan penggalian sebuah dunia.

Karena suka bermain ke rumah teman sekelas/geng dari semenjak SD, kebiasaan bertandang (Baca: Batak : berkunjung tanpa undangan) itu terbawa sampai ke sekolah menengah pertama. Dan kebiasaan ini yang membawa saya terjerumus untuk semakin mencintai dunia kata-kata, Buku. Rumah teman SMP yang saat itu saya dan geng kunjungi adalah surga sastra pertama saya. Teman saya itu adalah anak keempat dari lima bersaudara. Kakak tertuanya, seorang pembaca maniak dan pengoleksi buku-buku. Dari sanalah saya berkenalan pertama sekali dan berjalan lebih dalam menyusuri dunia sastra. Buku pertama saya adalah Chicken Soup for The Soul-nya Jack Canfield dan Mark Victor Hansen. Di dalamnya ada koleksi kisah pendek kehidupan nyata yang menginspirasi – cinta, relasi, ucapan syukur, duka & kehilangan, gairah dan tujuan, menyampaikan pesan-pesan bermakna tanpa kesan menggurui. Hal ini yang mendorong saya semakin sering bertandang ke rumah teman saya itu. Sejak saat itu saya suka meminjam koleksi buku kakaknya. Seiring waktu berjalan dan usia saya bertambah, rasa dahaga pada buku-buku kian menjadi. Saya mengunjungi beberapa toko-toko buku kecil di kota saya, soalnya saat itu cabang gerai buku besar yang ternama se-nusantara terpaksa tutup dari sana, mungkin karena kalah ramai dengan toko roti “Ganda” khas kota kami yang tak pernah sepi setiap harinya.

Tiga kali dalam seminggu, jika uang saku yang saya sisihkan sudah cukup untuk membeli satu buku, dan jika hari itu tidak ada jadwal bimbingan belajar, saya akan mengunjungi toko-toko buku kecil yang berani bertahan (baca: tidak takut kalah ramai). Sampai akhirnya saya punya bookstore yang nyaman buat jadi langganan. Disana saya melihat-lihat dan mengobrak-abrik buku-buku yang menarik mata dan segera turun ke hati. Dan untuk pertama kalinya saya bersinggungan dengan karya-karya Paulo Coelho, Bukunya, The Winner Stands Alone menjadi awal perkenalan kami yang mendebarkan. Dari yang satu itu, menjadi dua, tiga, dan empat lalu banyak. Bukan cuma Paulo, bahkan Sang Nabi Kahlil, pun ikut serta Pramoedya, menyusul De Mello, dan mereka dengan karya-karyanya yang saya hormati dan pantas disebut ‘guru’.