Rumah Neraka dan Mata Merah

Cerpen,  (16 Oktober 2017)

 

Panggil aku Tari. Anak tengah dari tiga bersaudara. Nama penuhku sebenarnya Mentari Nurcahaya. Tapi aku tidak pernah suka untuk memanjangkannya. Jika kalian melihat kehidupanku, pasti kalian tidak lagi mempertanyakan alasan mengapa aku lebih suka hanya dipanggil Tari. Sebab tidak ada satu haripun dalam hariku secerah cahaya mentari, sampai hari keselamatan itu tiba, hari dimana Jude mengulurkan salah satu kakinya padaku.

Bapakku seorang pemabuk, kelas profesional, dari jamannya Ia remaja. Sementara Ibuku pedagang kaki lima di pasar dekat rumah. Sehari-harinya Ibu harus bangun setiap pukul 03.00 pagi. Memasak, beres-beres rumah, dan menyiapkan segala barang dagangannya untuk dibawa ke pasar. Kalau aku jadi Ibu, sudah lama aku meninggalkan keluarga ini dan pergi mencari kebahagiaan sendiri. Untuk apa bertahan pada keluarga yang menjadikannya tak lebih hanya seorang budak. Hari-harinya habis diisi dengan mengerjakan pekerjaan rumah dan mencari nafkah menggantikan suaminya yang tidak produktif.

Aku berusia enam belas tahun. Usia dimana anak-anak sebayaku sedang membutuhkan segudang penuh perhatian dalam pencarian jati diri dan makna  hidup dan sedang asik-asyiknya bermimpi tentang masa depan, dua buah kata ajaib yang sering diulang dibangku sekolah saat kelas Bahasa.  Namun dengan kondisi keluarga yang seperti ini, memaksaku untuk berpikir berbeda. Otakku harus berpikir keras. Pertanyaan demi pertanyaan menggumpal memenuhi pikiranku. Bukan pertanyaan tentang kemana aku harus melanjutkan sekolah, apa yang menjadi impianku dan bagaimana mengenali potensi – potensi yang katanya sudah Tuhan anugerahkan pada setiap orang sewaktu masih didalam kandungan.

Aku malah terjebak pada pikiran bagaimana untuk cepat-cepat keluar dari rumah neraka ini, bagaimana untuk menutup mata dan berpura-pura untuk tidak melihat bahwa ibu menangis diam-diam di sudut kamar setiap kali habis dipukuli bapak. Aku tidak tahu mengapa bapak dan ibu guru di sekolah mendidik supaya setiap murid menghormati kedua orangtuanya. Aku juga tidak tahu apa yang menjadi rumusan buku-buku teks itu disusun sehingga mengagung-agungkan jerih payah seorang ayah yang menjadi tulang punggung dan imam bagi sebuah keluarga. Sebab yang kudapati sangatlah berbeda pada kenyataanya.

Sosok bapak yang aku lihat malah lebih seperti anjing gila. Setiap hari marah-marah minta duit buat berjudi. Semua hasil dagangan ibu diminta secara paksa untuk diberikan padanya. Pagi sampai siang kerjanya cuma tidur. Menjelang malam, Ia keluar menuju warung kopi tempat biasanya kumpul berjudi. Setiap kalah berjudi, Ia pasti akan pulang dalam keadaan mabuk. Matanya memerah seperti mata Jude si anjing ras Belgian Malinois peliharaaan tetangga kami jika merasa terusik oleh siapapun. Ia akan berteriak keras-keras sambil mengumpat ibu, sedangkan aku, dan adikku akan berdiri gemetaran sambil mengintip dari pojok kamar. Bahkan tak lupa air kencingnya juga ikut mengangkuhkan diri, membasahi celana jeans biru  kesayangannya. Mendengar teriakkannya setiap malam kalau mabuk, Jude pun akan ikut-ikutan untuk menggonggong dari pagar rumah majikannya. Rasaku tak jarang pula para tetangga ikut mengutuki keluarga kami dari dinding kamarnya akibat keributan yang dibuat bapak. Aku ingin sekali segera keluar dari rumah ini tapi tak tega kalau harus meninggalkan ibu dan adik kecilku. Aku kasihan pada adikku yang baru berusia enam tahun. Mental anak seusiaku saja tak tahan menghadapi pengalaman begini setiap hari, apalagi anak sekecil dia.

Sudah sepanjang ini aku bercerita mengenai bapak ibu, aku dan adikku. Apakah ada yang bertanya-tanya tentang kakakku? Nama kakakku Lara Riati. Kami memanggilnya Kak Lara. Sengaja diberikan nama Lara karena memang kelahirannya menambah susah keluarga. Kak Lara satu-satunya anak Ibu yang lahir di rumah sakit karena harus lahir secara caesar.  Untuk makan sehari-hari saja kurang, Ia malah memilih untuk lahir secara mahal. Namun hidupnya saat ini sudah lebih baik ketimbang kami, sebab Ia tak perlu lagi setiap malam melihat mata merah bapak yang seperti anjing gila itu. Ia berusia sembilan belas tahun saat bapak menjodohkannya dengan juragan tanah yang datang dari kota. Ia menjadi istri siri si tuan takur. Kisah siti nurbaya itu memang masih berlaku hingga era-nya siti nurhaliza pada saat ini. Pernikahan bukan didasari komitmen dan rasa cinta dari kedua pasangan pengantin, namun asal sudah mengantongi persetujuan dari salah satu pihak keluarga saja sudah cukup. Awalnya kak Lara menolak dan menangis memohon pada bapak agar mengurungkan niatnya. Namun apa daya, mata bapak terlanjur merah melihat uang yang ditawarkan sang juragan. Aku ingat ibu berkata kepada kakak, “Sudahlah Lara, turuti saja kemauan bapakmu. Menikahlah dengan tuan takur itu daripada berakhir seperti Ibu. Pernikahan bapak dan ibu pada awalnya didasari cinta, namun kehidupan ini keras, hingga terakhir cinta itu pun harus diobral”. Akhirnya kakak pasrah pada jalan yang ada dihadapannya, dan tak berani lagi bersikeras untuk mengambil jalan yang ia inginkan. Pada hari pernikahannya, sejak hari itu ia melangkahkan kaki keluar dari rumah neraka ini dan tidak pernah kembali lagi.

Lalu sekarang giliranku. Pikiranku berupaya keras memikirkan cara untuk berjalan keluar dari rumah neraka ini. Tapi aku tidak tega membiarkan Ibu dan adik kecilku tetap terkurung didalamnya. Hingga hari itu tiba. Ada satu cara yang sudah lama berdiam didalam benakku. Dan dari beragam cara yang telah aku pikirkan, cuma satu cara ini yang berhasil menghantui pikiranku dari hari ke hari, dan cara itu membawa Jude sebagai tokoh utamanya, anjing bermata merah peliharaan tetanggaku, yang terinspirasi dari salah satu lagu band legenda favoritnya, The Beatles.

Siang itu aku menghampiri pagar besi tempat Jude dirantai. Aku memandang matanya yang berubah memerah karena merasa terusik oleh tatapanku. Mulutnya terbuka dan kedua taringnya tampak kuning mengkilap. Jude balik menatap, tepat pada kedua bola mataku. Sepertinya ia mengetahui apa yang ada dalam pikiranku. Aku menatapnya terus sambil mengulang-ulang mengucapkan kata maaf di dalam hatiku. Ia mengulurkan salah satu kakinya kearahku seperti menyetujui keputusanku. Siang berlalu menjadi sore yang hening dan malam yang sepi segera menyusul. Ada perasaan yang berbeda yang disuguhkan semesta pada malam hari itu. Tidak ada teriakan keras Bapak malam itu. Tidak ada suara gonggongan Jude malam itu.

Suara sirene polisi memecah pagi di kampung kami hari itu. Jude ditemukan mati terkapar. Di sebelahnya bapak tergeletak setengah sadar memegang kayu berlumuran darah. Tetangga kami geram bukan main, marah-marah sambil memaki bapak dan minta petugas polisi segera mengamankannya.

Aku lupa bercerita pada kalian, kalau Jude sudah dianggap seperti seorang anak oleh tetangga kami. Jude, jenis anjing yang sangat setia, dan sudah menjadi bayangan dari tuannya, Jude selalu dibawa waktu tuannya lari pagi, ataupun sedang duduk membaca. Tidak jarang juga ia dibawa sewaktu tuannya mampir ke kamar kecil bahkan mereka berbagi makanan yang sama.

Bapak diangkut paksa ke mobil petugas dalam keadaan terhuyung-huyung. Ibu menangis tanpa mengeluarkan sepatah katapun sambil memandangi wajah bapak yang berlalu dibalik kaca mobil petugas.