Dalam Rangka Memahami ‘Bumi Manusia’ Dengan Segala Permasalahannya 

 

 

NW

 

Begini, sebenarnya tidak tepat untuk merencanakan panen jika buah – buah nya belum sepenuhnya matang. Namun buah pikiran kali ini merasa bosan berseringai di kepala, menggairahkan sekaligus menjemukan. Ada banyak pertanyaan yang timbul karena rasa penasaran yang penuh gairah, kekhawatiran yang tak kunjung reda, kekeliruan berpikir yang seringkali terasa hambar di tengah berlangsungnya #Pandemi Covid 19 ini. Namun semua gejolak yang ada seolah mengingatkan sekaligus menunjukkan betapa istimewa, dan konyolnya serta menggemaskannya menjadi makhluk yang disebut Manusia.

Tulisan ini memaksa untuk lahir pada waktu ini, dalam rangka memahami ‘bumi manusia’ dengan segala permasalahannya yang sudah pasti tidak akan pernah tuntas.
“Lalu mengapa masih di bahas?”
Karena concern nya seperti yang sudah disebut diatas yakni untuk memahami dan bukan untuk menjawab segala permasalahan.

Menurut saya, Pandemi yang tengah berlangsung saat ini sebaiknya janganlah hanya di pandang selalu dari sisi yang merugikan saja. Mari melihat Pandemi ini dari sisi yang berbeda, yang bukan serta merta hadir sebagai bentuk konspirasi seperti yang dispekulasi oleh beberapa golongan ataupun memang sebuah bentuk virus jenis baru yang tingkat penularannya tersebar begitu cepat. Tidak perlu terlalu mendramatisasi, kita sebagai manusia konyol tidak boleh kehilangan selera humornya.
Bagi saya, salah satu kompromi terbaik yang ditawarkan Pandemi ini bagi ‘Bumi Manusia’ adalah “Sela”.

“Sela” (dalam Bahasa Indonesia), berasal dari kata “Calah” (bahasa Ibrani artinya”mengukur”), Selah (dalam bahasa Inggris) merupakan aba-aba untuk berhenti sejenak. Dapat pula diartikan diam dan mendengarkan. Sela juga sering muncul sebagai sebuah tanda berhenti dalam nyanyian/Mazmur pujian. Namun lebih dari sekedar tanda untuk keperluan dalam menyanyi atau bermusik, mengaplikasikan ‘sela’ sepanjang menjalani irama kehidupan pun ternyata sangatlah dibutuhkan, terkhusus di tengah-tengah kondisi yang memberikan kesempatan yang lebih besar untuk melakukan hal tersebut.

Namun lagi-lagi manusia selalu saja konyol dan tentunya menggemaskan. Memiliki ‘sela’ dianggap membosankan dan tidak penting. Karena selama ini manusia sudah terbiasa menjadi auto sibuk dan apabila berhenti sejenak, itu terlihat ‘ketinggalan’. Manusia seringkali takut untuk menarik diri dari serba serbi hiruk pikuk di luar untuk tinggal sejenak di ‘dalam’.

“Apakah karena ketika berhenti dan tinggal di dalam, satu-satunya yang kita hadapi adalah pikiran, perasaan dan dorongan dalam diri masing-masing?”

Rasa takut untuk berhadapan dengan diri masing-masing muncul karena kita sudah terbiasa memulai segala hal tanpa kesadaran dari dalam. Kata kuncinya adalah berhadapan dengan diri masing-masing. Sebenarnya jika kita mau jujur, segala sesuatu yang kita kerjakan dalam hidup dan waktu yang kita habiskan dalam melakukan banyak hal, kita lakukan dengan diri sendiri (sendirian). Sendiri disini bukan dalam arti tidak membutuhkan manusia lainnya. Seringkali yang menjadi persoalan adalah kita tidak tahu caranya untuk bersenang-senang dalam kesendirian tanpa merasa lonely. Padahal sendiri kan tak selalu berarti sepi.

*I don’t know, I don’t know naega wae ileoneunji, Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely…dudududu seperti mati lampu, seperti mati lampu…# (tarik bwaanggg)

Segala hal tampaknya dipaksakan dari luar. Kita menyebutnya rutinitas. Padahal manusia harusnya merayakan kebebasannya dalam hal apapun, dengan kesadaran penuh. Kan De Mello juga sudah sangat jelas mencatatnya dalam Awareness, “Hidup yang tidak disadari, tidak layak untuk dijalani.” 

Ini menjadi langkah pertama untuk memahami. Sebaiknya antara saya dan pembaca harusnya sepakat dari awal bahwa tulisan ini bukanlah sebuah jawaban, melainkan rupa – rupa pertanyaan yang mungkin juga pernah mengambil alih sejenak isi benak Anda di sepanjang ‘Sela’ yang tengah berlangsung . Tujuan saya tak lain dan tak bukan, supaya kita tidak pernah benar-benar berhenti bertanya dan melihat ke dalam.

“Bukankah dengan bertanya kita dibantu untuk melihat segala sesuatu lebih dekat dan digiring untuk memahami?”

Suka atau tidak suka, setiap personal perlu untuk selalu mencari tahu bagaimana cara memperlakukan dirinya sendiri. Tentunya praktiknya berlaku tidak sama bagi setiap orang. Satu cara mungkin tampak mudah bagi seseorang namun tidak bagi yang lain. Cara yang mudah bagi saya belum tentu mudah bagi orang lain, begitu juga sebaliknya.

“Sebenarnya, apa yang membuat kita takut untuk berdiam diri dan menyelam menuju kedalaman diri sendiri?”

Bagaimana jika, di hadapan waktu, seolah-olah kitalah yang tengah mengolok-oloknya karena sanggup merasa cukup hanya dengan diri sendiri?

Bagaimana jika, kita yang menjadikan waktu merasa canggung dan pada akhirnya hengkang lalu menguapkan diri serupa kabut?

Saya pikir ini harusnya menjadi sebuah pertanyaan yang perlu diulang dan di serukan berkali-kali buat diri sendiri. Dan hal ini bukan sesuatu yang kita dapatkan melalui pengalaman orang lain, esensinya dirasakan bukan dari luar sana, melainkan di dalam sini.

Bersenang-senang lah merayakan SELA!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s