Bagaimana jika Kita yang menciptakan jalan?

Jakarta Barat, 1 November 2017.

 

Mereka menyebutku gila.“Kau tak waras, sudah kehilangan akal sehat,” ujar mereka. Teman-teman disekelilingku sudah kehabisan kata untuk pilihan yang telah aku buat saat ini. Bukannya aku tak mau berpikir ulang namun akal pikir dan batinku sudah terlebih dulu digumuli rasa antusias untuk melangkah menjauhi lengkung mainstream yang aku sudah rasakan selama berbulan-bulan belakangan. Aku tahu jelas bagaimana rasanya, dan aku juga sudah memutuskan- enggan melupakan setiap rasa getir yang aku alami saat melalui hari-hari yang berhasil membuatku kisut bak kulit jeruk nipis keriput. Aku baru 23, itu pun dua puluh dua hari lagi.

“Kau gila, G-I-L-A-A-K! Gila juga butuh modal,” kata Nju saat aku menceritakan rencana yang telah aku pikirkan belakangan ini.“Berhenti dari pekerjaanmu saat ini demi mengejar passion tanpa punya simpanan materi yang cukup sebagai modal bertahan hidup beberapa bulan ke depan itu tergolong dungu bukan hanya naïf lagi, Lynn”, sambungnya. Percuma namamu Marilyn, tapi otakmu tak berpikir secantik yang punya nama itu.

Aku Marilyn. Hanya Marilyn tanpa Monroe, Nju. Ayolah, kita baru 23, kau lewat tiga bulan dan aku baru genap pada dua puluh dua hari mendatang. Aku datang mengunjungimu bukan untuk digurui olehmu. Kita sepaham kalau hidup bukan melulu soal makan. Aku tidak takut kelaparan dan Tuhan itu Maha, bukan? Pastilah Dia memelihara dengan caranya, melalui apa pun dan siapa pun. Urusan perut sejengkal itu gampanglah diurus-Nya.

Iya Tuhan itu memang Maha. Maha seenaknya, seenaknya memberi, seenaknya mengambil. Dia memberi kita orang-orang untuk kita sayangi dan Dia juga yang mengambil mereka dari sisi kita. Seenaknya Dia, ujarnya. Dia terbawa perasaan kalau diungkit kata “tuhan” sebab belum berselang lama orang terpenting dalam hidupnya berpulang kepada Tuhan.

Aku hanya ingin adil pada diriku sendiri, Nju. Jiwaku kehilangan gairahnya. Mataku tak bersinar setiap kali melakukan tugas-tugas dalam pekerjaan itu. Aku sudah mencoba untuk menikmatinya dan mensyukuri setiap batang hari yang datang silih berganti. Bahkan aku menyadari betul bahwa hari ini merupakan jawaban dari doa-doaku di hari-hari kemarin. Namun seberapa keras aku telah mencoba, lagi-lagi aku gagal menikmatinya. Alih-alih menikmati, aku harus menyeret diriku setiap pagi untuk bangun bahkan mensugesti diriku bahwa aku mampu menjalani hari ini. Namun di penghujung hari yang ada hanya derai-derai tangisan batin di dalam keheningan. Aku tidak dimaksudkan untuk pekerjaan ini dan sebaliknya. Bukan salahku ataupun pekerjaan ini, hanya saja kami benar-benar tidak dimaksudkan untuk satu sama lain.

Aku hanya ingin menata diriku kembali. Setiap kali aku bercermin semakin pula aku tidak mengenali sosok yang dipantulkan oleh cermin itu. Kau tak lihat, penampilanku sekarang sudah tak mencerminkan usia kita saat ini. Aku layaknya ibu dengan tiga orang anak lanang, tak lagi bersemangat dan sayu. Bak mawar yang layu sebelum berkembang karena digerogoti durinya sendiri.

Sebenarnya aku tak hanya sekedar ingin mengejar impian yang kita agung-agungkan dulu di bangku sekolah menengah. Ini bukan hanya perihal passion. Ada hal yang berubah tentang caraku memandang segalanya karena per·spec·tive baru yang terasah oleh hal-hal yang aku sendiri alami atau terjadi di sekelilingku. Entah, dunia ini tampak asing bagiku, entah, atau aku yang sudah tak lagi sama.

“Lalu apalagi rencanamu setelah penantian resign-mu terpenuhi?” tanya Nju.

Rencananya adalah aku tak punya rencana, jawabku. Aku hanya ingin benar-benar menikmati setiap harinya, tidak ada perasaan terpaksa. Aku benar-benar ingin mendengarkan setiap pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari kedalaman jiwaku.

Aku ingin pergi melangkah ke tempat aku ingin pergi. Aku ingin mengamati orang-orang yang berlalu dari balik kaca-kaca busway, pada setiap halte pemberhentian, pada kereta-kereta maupun stasiun-stasiunnya yang tak pernah sepi hingga larut malam.

Aku suka mengamati punggung orang-orang yang lalu-lalang pada tempat-tempat umum itu dan membiarkan diriku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tentang ekspresi wajah apa yang ada dibalik punggung itu, apakah kelelahan seorang sarjana muda yang sudah mondar-mandir mengantarkan curriculum vitae dari perusahaan satu ke perusahaan lain, sebuah kecemasan seorang ibu muda yang terlambat menjemput anaknya yang baru hari pertama masuk sekolah dasar, senyuman manis dari seorang wanita yang menerima pesan WhatsApp dari pacarnya, atau raut wajah yang serius pada wajah seorang gadis remaja yang duduk pada urutan bangku busway paling depan bersebelahan dengan jendela dengan buku The Alchemist-nya. Gadis itu mungkin sedang bertanya-tanya apa yang menjadi legenda pribadinya. Aku merindukan semua hal–hal tadi, hal yang tidak bisa aku peroleh selama hampir setahun ini karena rutinitas kehidupanku enam hari dalam seminggu hanya sebatas rumah pondokan dan kantor yang jaraknya tak lebih dari lima belas menit berjalan kaki.

Aku mencoba melepaskan setiap hal yang telah mengikatku selama ini tanpa izin atau dengan se-izinku. Aku ingin bebas lagi. Anggap saja aku sedang mendefenisikan kehidupan itu sendiri dengan defenisiku. Tiga hal ini yang sedang aku minta diajari oleh kehidupan padaku, dengarkan:

AJARI AKU

Ajari Aku

Untuk mengeja perjuangan, harus terbata-bata dulu  pada huruf-huruf ketekunan

Ajari Aku

Untuk memahami  bahwa pelangi tanpa hujan, adalah mustahil,

AjariAku
Untuk menemukan, didahului kehilangan.

Dengan nyaring kubacakan beberapa baris puisi itu dihadapannya. Nju terpelongo. Tanpa mengomentari apa-apa, dia bersiul dan langsung bernyanyi,“ When she was just a girl; she expected the world; but it flew away from her reach; so she ran away in her sleep,” dan pada suasana yang seperti de javu itu itu mengalunlah “Paradise” dengan sangat merdu bagai nyanyian sang malaikat.

Kau tahu, Lynn, seperti yang kau katakan tadi entah dunia ini yang menjadi asing atau kau yang tak lagi sama. Tapi ada satu yang selalu sama darimu, ada bagian darimu yang dari awal perkenalan kita membuatku tertarik seperti sebuah daya magis namun aku tak pernah bisa untuk mendeskripsikannya menjadi sebuah kata.

Apakah itu sebuah pujian, Nju? tanyaku kesenangan. Dia tidak mengiyakan. Pertemanan kami memang aneh sejak awalnya. Kami jarang memberi pujian satu sama lain. Kami juga tidak pernah memberikan hadiah pada setiap moment-moment penting. Kami bahkan jarang berfoto bersama, kami hanya punya tiga buah foto selama sebelas tahun pertemanan kami. Kami juga tidak suka membahas latar belakang keluarga kami masing-masing. Pada setiap  pertemuan, yang kami sering angkat keseringan perihal impian-impian kami kedepannya, para pelaku seni yang kami idolakan, dan manusia-manusia layak mana yang kami pantas anugerahi nama seniman dengan inspirasi karya-karyanya. Selebihnya kami akan mengamati lalu-lalang orang-orang dengan tingkahnya yang berlalu melewati tempat kami duduk menongkrong. Seringkali kami menyusun kisah dengan materi sesuai raut wajah dari lalu-lalang orang-orang tersebut dan berujung pada tawa lepas yang terbahak-bahak. Pertemanan kami aneh namun entah apa yang membuatnya tumbuh hingga belasan tahun.

Aku manusia, Nju. Aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri. Bukannya tidak rasionalis, siapa yang tak butuh uang, tapi aku bukan hanya makhluk ekonomi. “Aku manusia Nju”, tegasku sekali lagi. Aku tidak tahu apakah sekarang aku sedang menghakimi. Namun, ini bukan kehidupan yang ingin aku banggakan. Kejenuhan melanda ketika aku harus mengerjakan hal-hal yang tidak aku minati dan hari-hari liburku harus didikte oleh tanggal merah di almanak. Aku benci didikte, Nju. Hatiku terasa terperas dengan rasa yang kian waktu membuatku tak nyaman.

“Huh, apa kau baru menyadari persoalan dikte-mendikte, Lynn?”tanyanya. Itu sudah cerita klasik. Sangkin klasiknya orang-orang menganggap hal itu lumrah, sudah biasa. Berapa banyak orang-orang masa kini menghidupi hidupnya, Lynn? Bisa terbilang Lynn, orang-orang yang betulan menjadi manusia, mencari tahu makna hidup dan memaknainya. Kebanyakan orang memilih menjadi robot, masa depan mereka dipilihkan dan mereka diberi “ramuan ajaib” untuk mengiyakan semua aturan-aturan tanpa sekalipun mempertanyakan kebenarannya, mengikuti mainstream istilahnya. Mau enggak mau kita juga terseret ke dalamnya, sebab kita berada di zaman ini dan tumbuh besar bersama mereka. Orangtua mendikte masa depan anaknya, pemerintah mendikte peraturan-peraturan buat warganya, para bos mendikte budaya-budaya kerja bagi buruhnya. Area mana lagi dari masyarakat ini yang belum diprogram dikte emangnya? Bahkan kau sadari saja atau tidak, menu makananmu saja sudah didikte Lynn. Kalau mau lengkap ada nasi, lauk-pauk dan sayur mayurnya dalam ukuran jumbo, tersedia Paket A, untuk nasi dan lauk pauk saja silahkan pilih Paket B, untuk sayur-mayur tanpa nasi dan lauk, hanya dengan tambahan sedikit micin, ambillah Paket C. Sudahlah, lupakan untuk menjadi berbeda, ikuti saja aturan mainnya. “Kita kalah, Lynn,” bisiknya.

Tapi Nju, sanggahku, “apa kau ingat bait-bait puisi ini?”

*)  I shall be telling this with a sigh

    Somewhere ages and ages hence:

   Two roads diverged in a wood, and I…

   I took the one less traveled by,

  And that has made all the difference.

“Aku baru 23, Nju, itu pun genap dua puluh dua hari mendatang”, bisikku.

Catatan:

*) Puisi The Road Not Taken Karya Robert Frost

6 pemikiran pada “Bagaimana jika Kita yang menciptakan jalan?

  1. Suka sekali dengan tulisan dan ceritanya. Mengingatkan dengan diri saya tiga tahun yang lalu. Ketika saya dibilang gila karena memutuskan untuk keluar dari jakarta dan pindah ke bali.
    And no you are not crazy. In fact you are brave 🙂

    Suka

    • Hai Mba Ki. Thx uda di follback.
      Saya habis baca beberapa tulisan mba, menyenangkan dan mengesankan!!!
      Habis baca kisahmu di MAREEBA, gak perlu mikir lama buat langsung follow, karna beberapa hal kita sepaham.Tulisan diatas memang kisah saya pribadi, cuma pakai nama samaran biar lebih komersil, hehe.

      Gpp kalau dipanggil gila mba tinggal nyanyiin “Haters gonna hate, hate, hate. Im just gonna shake shake shake, shake it off!”hahaha 🙂

      Suka

      • Hha thank you. Aku malah udah baca semua tulisan di blog mu. Suka sekali gaya tulisan dan pemikiranmu.

        Makasih ya sudah baca tulisan Mareeba.
        Butuh waktu tiga tahun buat membalikan pikiran tentang ini yang gila sebenernya siapa. Saya apa orang-orang di sekitar saya. Hhe

        Nulis terus ya. Aku jadi pembaca setia

        Suka

      • Wah, mimpi apaan saya tadi malam diapresiasi perempuan kece ini! Wohooo..
        Nemu blog mba aja dgn tulisan” yg mengesankan uda happy bgt, belum lagi ketemu banyak kesamaan setelah baca post nya. Pengen usaha bakery sendiri, pengen netaskan buku, menjunjung tinggi prinsip “fungsional” bahkan sampai di dorong” buat PNS juga samaan. Wkwkw

        Sebuah kesenangan membaca karya mu mba. Saya pantau terussss! 🙂

        Suka

      • Aduh saya loh ini yang harusnya minta diajarin nulis yang bagus sama kamu. Serius pas baca saya mikir ini harusnya ada di toko buku. Bagus banget. Hha

        Seneng ketemu orang yang satu frekuensi gini. Semoga kita bisa temenan yaaa.

        Kamu juga nulis terus aku baca terus ini! Makasih banyak ya for the kind words

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s