mīˈself,mə-

 

ys
Pernah seseorang bertanya padaku mengenai hal apa yang tidak aku sukai selama aku dibesarkan di lingkunganku. Mengingat banyaknya rasa nyaman yang aku terima selama ini, sangatlah mudah untuk melontarkan jawaban “tidak ada”. Jawaban tersebut bukan berarti seiring perjalananku, aku tumbuh mulus tanpa memar yang membekas.
Omong kosong jika aku mengelu-elukan kesempurnaan.

Perkara malam rabu kemarin membuatku kembali terhubung dengan anak kecil di dalam diri. Rupanya kejadian tersebut berhasil menjadi saluran tempat ingatan – ingatan itu membesarkan diri. Berjalannya waktu, aku lupa bahwa ternyata ada hal yang selalu tinggal dan tak mau pergi dari pikiran tiap – tiap orang, mengendapkan diri di alam bawah sadar, sampai ada yang membangunkan tidurnya lalu memaksanya kembali berenang ke permukaan.

Ternyata benar, tekanan yang benar pada tempat yang salah mampu menghasilkan memar. Perbincangan malam itu menimbulkan perkara. Aku tidak dikenal sebagaimana aku mengenal. Dan itu mengecewakan.

Pada akhirnya, memang hal yang paling asyik adalah menjadi diri sendiri.
Pada akhirnya, memang hal yang paling asyik adalah menjadi diri sendiri.
Pada akhirnya, memang hal yang paling asyik adalah menjadi diri sendiri.

Teruntuk aku :

Terima kasih pada satu-satunya yang selalu ada dari permulaan hingga nanti pada kesudahan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s