Kepada Scorpiusku

 

 

Scorpius kecilku,

Aku menuliskan ini sebagai alternatif lain dari sebuah surat yang mungkin sudah konservatif di era ini.

Aku menyertakan lagu diatas sebagai cara untuk menyampaikan apa yang tidak bisa aku katakan secara langsung padamu.

Scorpius kecilku,
Jika kau ingin, kapanpun kau bisa menjadikanku Pil tidurmu!

Anak itu memilih lahir sebagai seorang Scorpius. Dilambangkan oleh seekor kalajengking, punya kaki delapan, dan sangat kuat. Aku mengatakan ini bukan berarti aku mempercayai ramalan zodiak,  hanya saja jika ingin mendeskripsikan nya, gambaran kalajengking tadi tepat buat karakternya.

Sejak dalam kandungan, dia memang sudah tampil berbeda. Mama mengakui hal tersebut. Orang tua zaman dulu, tidak concern buat mengikuti  pemeriksaan USG untuk mencari tahu apa jenis kelamin calon bayinya. Mama hanya menebak-nebak dari kejanggalan-kejanggalan yang mama rasakan selama mengandung.

Jika dulu saat mengandung aku mama cuma ngidam ‘sate padang’, namun saat mengandung dia mama sangat antimainstream, ngidam ‘merokok’.

Mama tidak pernah merokok, hanya memikirkan batangan itu terselip pada sela jari telunjuk dan jari tengahnya saja pasti sudah sangat janggal. Namun,’ bawaan baby ,’ ya mau gak mau, ya tetap dicoba. Ditambah lagi ucapan dari mbah tukang urut yang terdengar meyakinkan, “ini nih bayinya pasti lanang, lihat aja posisi perutmu rendah.”

Mama tersenyum aja. Tapi di dalam hati ia juga mengamini semoga bayinya laki-laki. “Biar sepasang”, pikirnya. Namun selain mengamini hal itu, baik kelak bayinya laki-laki atau perempuan, bagi Mama, seorang anak bagaimanapun bentuknya tetaplah sebuah anugerah.

Meskipun sepakat setiap anak adalah anugerah, Bapak juga tidak serta merta abai. Kerinduan hatinya memiliki anak laki-laki saat itu sangatlah besar.

Sembari merenungkan tanda-tanda yang ada, ia memikirkan sebuah nama. Seberapapun keras ia mencoba berpikir fair, yang mendominasi benaknya tetaplah nama seorang anak laki-laki. Ia menyimpan satu nama di hatinya, nama tersebut bermakna ‘Api’.

Ternyata realita berkata lain, yang lahir adalah bayi perempuan. Waktu itu bulan Oktober. Dalam Kalender Liturgi Katolik, Oktober ditetapkan sebagai bulan Rosario yakni untuk mengenang kekuatan berdoa kepada Allah melalui Sang Perawan Maria dengan sarana rosario di tangan.
Setelah memikirkannya secara mendalam, akhirnya Bapak memutuskan untuk memberi nama tengah bagi nya yakni ‘Maria.’ Selain tidak punya pilihan karena nama depannya sudah nama anak laki, Bapak juga ingin bayi perempuannya kelak tumbuh menjadi perempuan setulus sekaligus setegar Maria.

Bapak ingin jika ia menyandang nama itu, kelak ia boleh menjawab panggilan Allah dalam hidupnya setulus Maria menjawab panggilannya, ” Sesungguhnya, Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan Mu.”

Bapak juga ingin, sebagaimana Maria mampu tegar sekalipun harus menyaksikan derita anak terkasihnya melalui jalan dolorosa, begitu pula bayi perempuannya, Ia harapkan supaya mampu tegar dan memilih untuk tidak melarikan diri dari apapun persoalan hidupnya kelak.

Demikian ia dinamakan.

23 tahun berlalu.

Scorpius itu telah menjadi dewasa namun terjebak dalam labirin buatannya sendiri.

Ia membangun dinding-dinding labirinnya sendiri. Ia menutup diri dan menjauh dari dunia yang tampak asing baginya. Ia selalu merasa dirinya bukan bagian dari dunia, hingga akhirnya Ia tertidur sampai lupa bahwa dirinya Scorpius.

Ia lupa, Scorpius memiliki kemampuan beradaptasi yg tinggi pada kondisi ekstrem, yg seharusnya mampu ia gunakan buat menghadapi dunia yang tampak asing tadi.

Ia lupa, bahwa Scorpius diperlengkapi dengan sengatan sebagai senjata, yang artinya Kekuatan itu ada dalam dirinya sendiri.

Dan yang paling Scorpius tidak ingat bahwa ia mampu bercahaya di dalam kegelapan dan satu-satunya cahaya itu adalah dirinya sendiri, satu-satunya yang akan menuntun dirinya sendiri keluar dari jebakan labirin tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s