Sebuah Prolog

Saat ini, Samudra dan Cakrawala sedang sama-sama mengayuh sepeda yang bernamakan relationship.
Mereka mengayuhnya mengikuti lajur jalan yang ada di depan. Upaya pemanasan dilakukan dengan sesekali melaju kencang tipis-tipis namun kebanyakan mengayuh sesuai kesepakatan yang telah disetujui di awal, ‘kayak biasanya saja, ya.’ Sebuah kesepakatan yang cukup win-win solution untuk dua orang ‘bebas’ seperti mereka.


Sepakat, tidak perlu harus selalu berada pada line yang sama disetiap 24 jam penuh. Tidak perlu ada kewajiban untuk ‘pap‘ saat entah berada di titik mana pun. Tidak perlu kekang – mengekang yang berpotensi menjengahkan, sebab satu sama lain percaya sudah punya rem cakramnya masing-masing. Satu sama lain mengayuh pedalnya masing-masing, sembari terkadang saling bertukar dan berbagi sumber supaya punya lingkup yang sepaham untuk menuju arah yang sama. Menurut mereka hal itu yang seharusnya dan itu yang sebaiknya.


Tak lupa mereka juga sangat realistis. Mereka tidak menutup mata bahwa di depan sana ada jalanan yang melajur panjang dengan pelbagai kondisi dan situasi yang semuanya tidak dapat ditebak. Mungkin belokan, atau tanjakan, bisa jadi guncangan atau tikungan tiba-tiba. Di sana juga ada Sepeda-sepeda yang salip-menyalip dengan berbagai macam kecepatan yang mungkin akan menyisipkan perasaan tertinggal, atau Sepeda-sepeda yang menjejal naik sampai ke trotoar yang menyisakan perasaan ‘kepengen mencoba.’ Belum lagi kalau ketemu Sepeda-sepeda yang berputar balik melawan haluan, yang berangkatnya barengan tapi perhentiannya berbeda. Yah, bagaimanapun itu adalah konsekuensi sebuah perjalanan.

Sekarang, Samudra dan Cakrawala sepakat untuk sama-sama mengayuh, sampai tiba masa dimana mereka sampai di arah dan tujuan yang sama. Perihal kelaknya bagaimana, only God Knows… Iyah gak, Mud?

Selamat tidur di pelukan lautan yang berayun lambat.

SJ-182

Sudah selama 2/7, Langit kehilangan keceriaannya. Hujan memilih enggan untuk berhenti. Tanganku menggigil, kedua kakiku memohon untuk dipasangkan kaos pelindungnya. Sesekali, tanganku ku sembunyikan di bawah dudukan pantat, bergantian supaya tetap hangat. Kata salah seorang temanku alasan kali ini hujan bernyali berhamburan terus menerus, sebab turut merasakan kesedihan yang di goreskan oleh musibah kecelakaan yang baru-baru ini terjadi. Semua orang merasakan dingin, dingin karena perasaan sedih meninggalkan entah tanpa atau dengan ucapan selamat tinggal, dingin karena perasaaan kehilangan ditinggal entah dengan atau tanpa ucapan maaf atau terima kasih yang terucapkan. Aduh, tolong jangan tanyakan yang mana yang terasa lebih menyesakkan, meninggalkan atau ditinggalkan. Pedihnya sebuah hati tidak perlu diukur-ukur, rasa sakit tetaplah sebuah rasa sakit.

Hujan menyembur deras, bagi sebagian orang mungkin terdengar berisik namun tidak bagiku. Hawa terasa dingin dan cukup menusuk. Di televisi kulihat, seorang ibu di seberang sana menepuk-nepuk dadanya, menangis dan mengatakan,



Berenang, putriku, berenang sampai ke tepian.
Ibu menunggumu, ingin menyanyikan ” The Seal Lullaby” untuk mengantarkan jiwamu tidur terlelap.


Oh! Hush thee, my baby, the night is behind us,

And black are the waters that sparkled so green.

The moon, o’er the combers, looks downward to find us,

At rest in the hollows that rustle between.

Where billow meets billow, then soft be thy pillow,

Oh weary wee flipperling, curl at thy ease!

The storm shall not wake thee, nor shark overtake thee,

Asleep in the arms of the slow swinging seas!

Berenang, putriku, berenang ke tepian, biarkan suara ibu mengantarkanmu sampai keabadian.”



Hujan ikut turun di pelupuk mataku. Rintiknya menetes sampai ke dalam dadaku. Ibu itu putus asa. Perihnya pasti sangat ngeri. Terasa sampai ke aku, sampai-sampai nyeriku yang ada tak ada rasanya.


*Lirik The Seal Lullaby karya Eric Whitacre

Kamu tidak sendirian, Aku disini buat kamu

Pada satu titik waktu, saat seseorang mengalami pergumulan,

entah saat menjadi si pendengar atau menjadi si penderita,

satu hal yang benar-benar perlu hanyalah kerinduan untuk didengarkan tanpa embel-embel.

Hanya didengarkan!

{Didengarkan mungkin tidak akan cukup untuk menyembuhkan, tapi dapat menghiburkan. Walau bukan satu-satunya kebutuhan, tetapi didengarkan menjadi sebuah kebutuhan. Didengarkan ibarat menyiram sebaskom air pada kobaran api, belum tentu memadamkan tetapi dapat mengurangi kobarannya}.

Tuhan, Hati kami sobek

Tidak ada hujan pagi ini.


Cuma ada pasang surut airmata, yang berlomba-lomba meluncur
dari pasang-pasang mata anak-anak kecil, anak-anak dewasa, dan anak-anak tua itu.


Tunggu lah sebentar lagi! Airmata itu akan menjadi mata air, Tuhan.


Mata air itu akan menggenang, terus mengumpul membentuk sungai lalu menjadi lautan. Airnya akan menguap, membentuk awan hingga menjadikan hujan.

Hujan turun. Rintik-rintik. Hingga Deras. Memekarkan Mawar-mawar baru. Menutupi hati kami yang tengah Sobek.

Tuhan, Hati kami sobek. Mohon, jahit kembali!


30 Nov 2020, Selamat Jalan Maktua Ros-ku tersayang. Seperti namamu, Maktua akan selalu menjadi mawar yang harum di hati dan ingatan kami. Aku mengucap syukur pada Allah setiap kali mengingat moment berharga dan indah bersamamu.

Kritik

Krithik Roshyaan


Yright : Kok hidup Lu gak ada beda sama sebelumnya sih, yes?
Idealnya kan begini, nyatanya Lu begitu.


Ykiri: Duh, sekarang gue gak bisa jadi yang ideal.
Problem hidup banyak banget kayak cucian pas weekend.

Yright: Dulu-dulu katanya nulis itu passionnya Lu. Lah, sekarang?
Kayaknya perlu ditinjau ulang deh. Kalau perlu ditarik.

Ykiri: Boro-boro mau nulis, baca aja lagi males. Lagian kan gue nulis pas
sedang gelisah. Belakangan ini gak gelisah yang ada cuma geli nya.


Yright: Pasti otak kanan Lu udah tumpul deh!

Ykiri: Masa mau pakai otak kanan mulu. Sesekali main sama otak kiri
buat nganalisa future life nya gue, ngurutin pos-pos pemasukan &
pengeluaran dan nyortir barang- barang mana yang benar
fungsional dan emang dibutuhin. Goodbye, Things!

Yright : Hidup Lu kok rasanya nirfaedah.
Mampus Lu kan dikoyak Real Life!

Ykiri : “hhhhhh”

Mengapa Selasa ku selalu ganjil?

Selasa mendung lagi. Dari balik jendela, aku mengintip langit dengan awan hitamnya yang membendung. Di luar sedang terdengar riuh, rupanya sang angin sedang riang-riangnya beraksi. Sesuka hatinya ia mengadu dedaunan dan dedahanan hingga terdengar gemerisik riuh, sesekali ia membuat kain bendera berkibar dengan lantang.

Sembari melanjutkan menikmati pepaya jingga kesukaanku, aku bergumam dalam hati,” semenjak dulu aku suka mengamati, namun mendung yang begini itu tandanya apa? Tuhan, Engkau sedang mengekspresikan apa?”


Pagi-pagi buta tadi Engkau bolak-balik mengingatkanku, ” Pada hari ini, sekiranya kamu mendengarkan suaraKu, janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa!” Aku mencoba mengabaikan seakan tidak terusik. Namun tak bisa. Aku terusik dan menghampiri Mu.


Dan subuh tadi, bahkan aku ingat aku memimpikan apa. Tidak seperti biasanya. Dengan detail aku ingat setiap adegan dalam babak mimpiku, aku berdiri di sebelah dia, dengan senyuman bangga, menemani dan melihat nya mengerjakan beberapa soal matematika yang rumit dengan cemerlang.

Lalu sore ini, aku harus mendadak meninggalkan pekerjaanku dan berakhir menelan sebutir cetirizine.

Mengapa selasa ku selalu ganjil? Sementara aku belum berhasil bertemu dengan Morrie.

BULAN

PETA SELATAN, KALIDERES
July, 03 2017


Walau seperti semangka bekas gigitan,
bulan itu masih tetap indah.
Barangkali bukan bentuk sebagai penentu indah atau tidaknya.
Ia tetaplah bulan.
Ya begitulah, life goes by in the blink of an eye,
selagi kau diberi waktu jika ada yang ingin kau katakan, sampaikanlah.
Sudah kubilang aku tak melihat bentuk,
bagiku bulan walau satuperdua atau tigaperempat, tetap saja bulan.

Bengawan

JAKARTA
Dec 06, 2017

Aku sudah mencari – cari bahkan jauh menggali, dalamnya sepasang bola mata untuk mencari tahu di mana letak awan- awan itu menyusun diri, namun hingga sekarang belum juga ku temukan tempat gerombolan itu bermukim. Lantas, dari manakah datang nya rintik-rintik air yang selalu menetes dari sudut sepasang bola mata itu?

Karena belum jua ku temukan
tempatnya awan – awan itu pada sepasang bola mata, akhirnya ku putuskan untuk percaya bahwa rintik-rintik air yang tidak berhenti menetes itulah yang membentuk awan,
yang lama kelamaan menjadi awan-awan
lalu menjadi segerombolan.
Maka, aku pun berhenti mencari-cari.
Menyerah untuk menggali-gali mata yang sepasang itu. Ngeri aku kalau kalau sepasang mata itu nantinya robek terkoyak.

this site can’t be reached

Aku seorang Anonymous yang diutus oleh Aphrodite yang luar biasa untuk melihat bagaimana kasih bekerja dalam keheningan cinta yang tak terkatakan. Tapi aku tidak ingin menjadi Anonymous. Jika bagi Pram, menulis adalah bekerja untuk keabadian, aku akan mengajukan cuti untuk sejenak.

Ada banyak bacaan yang harus kuselesaikan diantara waktu yang terburu-buru sembari memungut memori-memori pendek yang berserakan diantaranya.

Maaf jika ke depannya tidak akan ada segala bentuk ucapan kritik dan saran kepadamu, maaf kalau nanti tulisan yang kau sengaja dalam bahasa Jerman berhenti kubaca, hitung-hitung mengurangi beban kerja si mesin penerjemah. Maaf kalau-kalau membaca karya surealis mu yang indah itu terpaksa aku hentikan sebentar.