Mencari Terang

 

 

Bolehkah kita saling bertemu?
Aku ingin membahas mengenai ini dan itu.
Bolehkah kita sambil memeluk?
Aku ingin membagi tangis.

Resahku sungguh beriak, membuatku terikat dan ini cukup pilu.
Tak hanya ngilu, semuanya terasa nyeri.
Bahkan ku tahu rasanya hatiku ketika begetar.
Retak sudah, kali ini benar-benar.

Melepaskan bahkan tidak lagi menjadi pilihan.
Tak ada lagi yang bisa dipertahankan.
Arahnya buram, seperti kabut menutupi dan mendung melingkupi.
Tentang menangis, tanpa diminta airmata tak hentinya bercucuran.

Kemana, hatiku bilang bahkan ke sana mungkin tidak ada jawaban.

Jangankan menawan masa bahkan perihal menahan rasa aku sudah tidak berdaya.

02.19 AM

Iklan

Tentang Permohonan

star

 

*
Twinkle, twinkle, little star
How i wonder what you are
Up above the world so high,
Like a diamond in the sky.
Twinkle, twinkle, little star
How i wonder what you are!

Bukankah ini tidak adil?

Setiap kali aku hampir selesai menghitung satuan bintang itu,

Aku merasa jumlahnya selalu saja bertambah.

Tuhan, sebegitu senangnyakah Engkau bercanda?

Ayolah, biarkan aku selesai menghitungnya malam ini.

**
When the blazing sun is gone,
When there’s nothing he shines upon,
Then you show your little light,
Twinkle, twinkle, through the night.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!

 

Nagoya, Feb 2018.

 

Kepada Tuhan

Kepada Tuhan,
Ini A k u kembali
Berbalik dari jalan yang kupilih kemarin
Sudah hancur, patah, dan remuk
Butuh rangkul-Mu semesra Bapanya Si Bungsu.

(Pku 02.12.2015)

*Sekarang sedang mencoba kembali mengingat moment saat menuliskan kata-kata diatas

Not In Nor On, But At

jam.pngSumber Gambar: http://julita999.blogspot.co.id/2017/06/membuat-jam-dinding-dari-tutup-botol.html

 

“Untuk pertemuan dan perpisahan,

mengapa datang terlambat dan pergi terlalu cepat?” Ucapmu.

Lalu Kau menyalahkan waktu.

Bukan sayang, ini bukan perihal waktu.

“Jangan menggungatnya!” Bisikku.

Waktu bergerak dalam porosnya.

Dan ia tepat sehingga pertemuan terjadi.

Dan ia benar sehingga perpisahan tercipta.

 

(JKT 2017-BTH 2018)

Camino

…. It’s not about speed but endurance.

Dalam bahasa Spanyol, Camino berarti ‘jalan kaki’. Aku mengenal kata ini melalui buku Paulo Coelho – The Pilgrimage. Dalam bukunya tersebut dikisahkan bahwa Paulo didampingi Sang Pemandunya melakukan Perjalanan Ziarah menuju Compostela atau lebih dikenal dengan Ziarah Santiago de Compostela.

Aku cukup akrab dengan beberapa karya Paulo dan ketika mencernanya, aku menemukan bahwa karya-karyanya kebanyakan mengisahkan “Perjalanan.” Dan belakangan aku juga tahu, bahwa salah satu kegemaran Paulo Coelho dalam kesehariannya adalah Camino. Cerita-ceritanya juga selalu menawarkan sensasi “berjalan-jalan” yang membuat para pembacanya merasa terkesima namun penasaran, menerka-nerka sambil tercengang, bahkan tak sedikit yang menyerahkan diri untuk percaya. Dengan gaya bercerita seperti itulah, aku dan banyak pemerhati karyanya berakhir untuk menganguminya. Yay, It’s his maktub!

Life is a journey, right ? Di dalam hidup ini setiap pribadi/personal memiliki tujuan atau aku lebih suka mendefenisikannya sebagai ‘desire‘ yang Tuhan taruh di dalam hatinya with his/her core gift. Setiap pribadi pasti bahkan pernah minimal sekali untuk bertanya tentang desire tersebut beserta core gift-nya dan malah punya kerinduan untuk ingin atau akan atau mungkin sedang berupaya untuk mewujudkannya hal tersebut.

Lalu, hubungannya dengan Camino atau Perjalanan apa ya? Yah, untuk mampu mengenali desire nya tersebut, setiap personal harus melakukan Perjalanan. Tapi bukan hanya sekadar Perjalanan sih, tepatnya Perjalanan dengan sambal or gulai or rebusan Awareness. Agar apa? Yah agar mampu toh untuk memaknai dirinya, hidupnya. Apa untungnya sih mencari tahu dan menemukan si desire- desirean ntu? Yah, To Find your Place Under the Sun lah, gengs.

Afterwards, in the end of the day,  aku, kamu,  (jadi kita, eaaaaaak), bisa lantang ngomongnya,”Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Buen Camino, Fellas!

 

 

Aku pergi, terimakasih.

Aku meninggalkan Pulau ini,

Yang genteng-genteng rumahnya ditambal berlapis-lapis bak lapis legit kesukaanku

Yang sungai dan kali nya dihuni sampah berserakan walau baru habis dibersihkan

Yang hujan dianggap bukanlah sebuah kemurahan Tuhan namun sebuah musibah yang akan membuat rumah dan harta terendam banjir

Aku meninggalkan Kota ini, bukan karena aku tidak mencintainya

Aku meninggalkan Kota ini malahan karena cintaku padanya tak mampu dibendung jika harus tetap bertahan

Aku hanya tidak ingin menambah kepadatan yang merayap

Aku tidak ingin Pulau ini tenggelam bersama seratus juta penduduknya lantaran berat bebannya

Aku meninggalkannya karena aku mencintainya.