Jendela, Kopi, Atau Kretek Di Meja

Lelaki itu duduk menghadap bilik jendela kamar yang memang dia biarkan terbuka. Seperti biasa dia hanya berteman sebungkus kretek dan secangkir kopi hitam yang terletak tidak jauh di atas meja kerjanya. Tapi kretek itu masih berbungkus, belum tersentuh sama sekali. Belakangan dia tengah berkomitmen untuk tidak lagi berpasrah pada bubuk tembakau itu kala harus melarikan diri dari jemu yang menyergap atau rindu yang menyayat atau bila kedua-duanya datang berkunjung sekaligus. Dia menatap ke luar tanpa memegang satu buku apapun, tapi bukan berarti dia sedang tidak membaca. Dia sedang membaca, membaca angin, dedaunan yang melayang gugur dan berlanjut ke awan-awan yang sedang menyemburkan rintik -rintik hujan satu persatu. Dia suka memuja ketenangan yang ditawarkan oleh hal-hal sesederhana itu. Hanya saja ketenangan itu tetap saja terusik oleh rindu-rindunya pada sang kekasih yang mau tak mau harus diendapkan selama ini karena jauhnya lintasan ruang dan jarak keduanya. Tapi sebenarnya lebih dari itu semua, hatinya menuntut tanya “is it true all of this about space and distance or just the walls of the ego?”

Iklan

Perempuan & Badai yang Mengamuk di dalamnya

Mendung. Padahal ini selasa. Langit hari ini abu-abu – kelabu, hampir menyerupai perasaannya saat ini. Ada badai yang sedang mengamuk di dalamnya dan bertarung melawannya. Hanya saja dia tetap terlihat tenang, tapi bukan berarti dia sudah menang. Kelihaiannya untuk tetap terlihat tenang walau dirundung gundah sudah semakin hebat semenjak dia terlatih oleh masalah-masalah yang datang tanpa jeda belakangan hari ini. Mungkin ungkapan practice makes perfect sungguh dia rasakan saat ini, yah the more you practice, the better your skills are, right?

Langit semakin mendung. Ini bukan tentang matahari yang ragu-ragu untuk unjuk diri, bukan pula tentang hujan yang punya nyali. Ini memang bulan penghujan. Wajar saja langit sering terlihat murung. Jangan sekali-kali mengingat November tanpa hujan-hujannya. Bukankah yang menambah spesialnya November itu adalah hujan-hujan yang awet dan dinginnya yang pekat? Justru itu yang membuatnya semakin memikat kan?

Dia masih bertarung dengan badai yang di dalamya. Masih ada 8 jam lagi untuk hari ini dan 112 jam untuk kedepannya. Apakah badai itu akan memuncak atau menurun, tidak ada yang tahu. Yang pasti dia tetap bertarung dan melawan namun dengan tenang.
Untuk siapa pertarungan ini sebenarnya? Untuk dirinya sendiri. Supaya apa? Supaya nanti tiada satu pun yang akan disesalkan.

 

Selasa, H-14 Sebelum Kemerdekaannya.

Bertanya Si Pengemis Kecil Pada Ayahnya

Sendu tatapanku mendung air wajahku
Antara sendu atau mendung,
Mengapa engkau tak menamaiku begitu, Ayah?
Biar tak perlu aku menjelaskan
Agar tak penat aku menyusun setiap kata lagi
Untuk tiap-tiap mata yang menatap,
Saat harus perkenalkan diri,
Di simpang jalan-jalan lampu merah
Dibayangan kaca hitam mobil-mobil mewah
Di celah-celah ruang, antara lalu lalang kaki-kaki yang bergegas
dan pandangan-pandangan yang beringas.

Pekanbaru, saat melihat anak-anak yang harus mengemis demi sepiring makanan sehari.