MAKTUB

"Aku mempercayainya sebagai maktub."
4. hujan

Dua belas, dua belas. Tanggal dan bulan hari ini tidak bersebrangan melainkan melekat pada bilangan yang sama. Ini pastilah bukan kebetulan, pun bukan pula perjanjian kosmik untuk membuat orang banyak mengistimewakan hari ini semisal sebagai tanggal jadian, atau tanggal pernikahan bahkan rencana melahirkan. Namun apabila hari ini dijadikan tanggal khusus untuk perayaan-perayaan penting sekalipun, aku bilang itu bukanlah sebuah kebetulan. Aku mempercayainya sebagai maktub. Segala sesuatunya sudah tertulis. Apa , bagaimana, kapan bahkan kenapa harus terjadi pun sudah ada alasannya. Jadi, “kebetulan” sudah tidak punya ruang lagi. Bila kau belum setuju, mari menunggu waktunya saja. Sebab saban hari pun aku demikian, belum percaya. Seiring waktu berjalan, akupun di giringnya utk belajar. Waktu benar-benar menjadi guru yang baik. Sangat akurat untuk menajamkan pikiran seorang murid. Percayalah, akan datang waktunya cara mu memaknai maktub akan berbeda dari pandangan awalmu.

Aku tidak ingin gegabah mendefenisikan hari ini berdasarkan peristiwa yang terjadi di dalamnya.

Aku tidak ingin menyebutnya sebagai hari yang romantis hanya karena hari ini aku memiliki hari yang berkualitas dengan kepala departemen ku. Kami berdua menyenangi aroma petrikor yang masuk lewat kaca jendela mobil yang terbuka, menikmati berburu barang natal berdua, dilanjutkan makan malam berdua di rumah makan khas daerah, sambil berbagi rahasia- rahasia kecil diri kami sembari diiringi suguhan lagu “let it be me” nya everly brother dari seorang musisi jalanan berdarah Medan.

Aku juga tidak akan menyebutnya sebagai hari yang mengerikan walaupun saldo rekeningku terpotong padahal jumlah nominal yg ditarik tidak keluar dari mesin ATM nya.

Aku juga berjanji tidak mau menyebutnya sebagai hari yang jalang sekalipun tadi aku menerima “body shaming” dari dua orang yang berbeda dan mendapat “pelecehan fisik” walau sudah se-syariah mungkin pakaianku dari seseorang yg bahkan tidak masuk kriteria “the man” versiku.

Aku mempercayainya sebagai maktub, sebab hari ini aku menerima hal-hal yang sebenarnya mewah namun berbungkus sederhana.

Aku menikmati moment berkualitas yang mungkin besok tidak dapat diulang kembali.

Aku juga belajar untuk tidak panik dalam keadaan malang, bersuara pada apa yang menjadi hakku, dan belajar melepaskan jika genggamanku sudah penuh.

Dan semua hal yang terjadi hari ini, memang demikian dimaktubkan untuk hari ini.

 

Telaga Indah, 12. 12. 2018

 

Iklan

Dear Mama

Ma, I want to ask you something while lying next to you and you stroking my curly hair…

Is It Possible to Have the Wealth of a Millionaire and the Heart of a Monk?
Or Whether The Poor Always Have a Sense of Inferiority?

 

20 Juni 2018

Mencari Terang

 

 

Bolehkah kita saling bertemu?
Aku ingin membahas mengenai ini dan itu.
Bolehkah kita sambil memeluk?
Aku ingin membagi tangis.

Resahku sungguh beriak, membuatku terikat dan ini cukup pilu.
Tak hanya ngilu, semuanya terasa nyeri.
Bahkan ku tahu rasanya hatiku ketika begetar.
Retak sudah, kali ini benar-benar.

Melepaskan bahkan tidak lagi menjadi pilihan.
Tak ada lagi yang bisa dipertahankan.
Arahnya buram, seperti kabut menutupi dan mendung melingkupi.
Tentang menangis, tanpa diminta airmata tak hentinya bercucuran.

Kemana, hatiku bilang bahkan ke sana mungkin tidak ada jawaban.

Jangankan menawan masa bahkan perihal menahan rasa aku sudah tidak berdaya.

02.19 AM

Tentang Permohonan

star

 

*
Twinkle, twinkle, little star
How i wonder what you are
Up above the world so high,
Like a diamond in the sky.
Twinkle, twinkle, little star
How i wonder what you are!

Bukankah ini tidak adil?

Setiap kali aku hampir selesai menghitung satuan bintang itu,

Aku merasa jumlahnya selalu saja bertambah.

Tuhan, sebegitu senangnyakah Engkau bercanda?

Ayolah, biarkan aku selesai menghitungnya malam ini.

**
When the blazing sun is gone,
When there’s nothing he shines upon,
Then you show your little light,
Twinkle, twinkle, through the night.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are!

 

Nagoya, Feb 2018.

 

Kepada Tuhan

Kepada Tuhan,
Ini A k u kembali
Berbalik dari jalan yang kupilih kemarin
Sudah hancur, patah, dan remuk
Butuh rangkul-Mu semesra Bapanya Si Bungsu.

(Pku 02.12.2015)

*Sekarang sedang mencoba kembali mengingat moment saat menuliskan kata-kata diatas

Not In Nor On, But At

jam.pngSumber Gambar: http://julita999.blogspot.co.id/2017/06/membuat-jam-dinding-dari-tutup-botol.html

 

“Untuk pertemuan dan perpisahan,

mengapa datang terlambat dan pergi terlalu cepat?” Ucapmu.

Lalu Kau menyalahkan waktu.

Bukan sayang, ini bukan perihal waktu.

“Jangan menggungatnya!” Bisikku.

Waktu bergerak dalam porosnya.

Dan ia tepat sehingga pertemuan terjadi.

Dan ia benar sehingga perpisahan tercipta.

 

(JKT 2017-BTH 2018)