Dalam Rangka Memahami ‘Bumi Manusia’ Dengan Segala Permasalahannya 

 

 

NW

 

Begini, sebenarnya tidak tepat untuk merencanakan panen jika buah – buah nya belum sepenuhnya matang. Namun buah pikiran kali ini merasa bosan berseringai di kepala, menggairahkan sekaligus menjemukan. Ada banyak pertanyaan yang timbul karena rasa penasaran yang penuh gairah, kekhawatiran yang tak kunjung reda, kekeliruan berpikir yang seringkali terasa hambar di tengah berlangsungnya #Pandemi Covid 19 ini. Namun semua gejolak yang ada seolah mengingatkan sekaligus menunjukkan betapa istimewa, dan konyolnya serta menggemaskannya menjadi makhluk yang disebut Manusia.

Tulisan ini memaksa untuk lahir pada waktu ini, dalam rangka memahami ‘bumi manusia’ dengan segala permasalahannya yang sudah pasti tidak akan pernah tuntas.
“Lalu mengapa masih di bahas?”
Karena concern nya seperti yang sudah disebut diatas yakni untuk memahami dan bukan untuk menjawab segala permasalahan.

Menurut saya, Pandemi yang tengah berlangsung saat ini sebaiknya janganlah hanya di pandang selalu dari sisi yang merugikan saja. Mari melihat Pandemi ini dari sisi yang berbeda, yang bukan serta merta hadir sebagai bentuk konspirasi seperti yang dispekulasi oleh beberapa golongan ataupun memang sebuah bentuk virus jenis baru yang tingkat penularannya tersebar begitu cepat. Tidak perlu terlalu mendramatisasi, kita sebagai manusia konyol tidak boleh kehilangan selera humornya.
Bagi saya, salah satu kompromi terbaik yang ditawarkan Pandemi ini bagi ‘Bumi Manusia’ adalah “Sela”.

“Sela” (dalam Bahasa Indonesia), berasal dari kata “Calah” (bahasa Ibrani artinya”mengukur”), Selah (dalam bahasa Inggris) merupakan aba-aba untuk berhenti sejenak. Dapat pula diartikan diam dan mendengarkan. Sela juga sering muncul sebagai sebuah tanda berhenti dalam nyanyian/Mazmur pujian. Namun lebih dari sekedar tanda untuk keperluan dalam menyanyi atau bermusik, mengaplikasikan ‘sela’ sepanjang menjalani irama kehidupan pun ternyata sangatlah dibutuhkan, terkhusus di tengah-tengah kondisi yang memberikan kesempatan yang lebih besar untuk melakukan hal tersebut.

Namun lagi-lagi manusia selalu saja konyol dan tentunya menggemaskan. Memiliki ‘sela’ dianggap membosankan dan tidak penting. Karena selama ini manusia sudah terbiasa menjadi auto sibuk dan apabila berhenti sejenak, itu terlihat ‘ketinggalan’. Manusia seringkali takut untuk menarik diri dari serba serbi hiruk pikuk di luar untuk tinggal sejenak di ‘dalam’.

“Apakah karena ketika berhenti dan tinggal di dalam, satu-satunya yang kita hadapi adalah pikiran, perasaan dan dorongan dalam diri masing-masing?”

Rasa takut untuk berhadapan dengan diri masing-masing muncul karena kita sudah terbiasa memulai segala hal tanpa kesadaran dari dalam. Kata kuncinya adalah berhadapan dengan diri masing-masing. Sebenarnya jika kita mau jujur, segala sesuatu yang kita kerjakan dalam hidup dan waktu yang kita habiskan dalam melakukan banyak hal, kita lakukan dengan diri sendiri (sendirian). Sendiri disini bukan dalam arti tidak membutuhkan manusia lainnya. Seringkali yang menjadi persoalan adalah kita tidak tahu caranya untuk bersenang-senang dalam kesendirian tanpa merasa lonely. Padahal sendiri kan tak selalu berarti sepi.

*I don’t know, I don’t know naega wae ileoneunji, Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely…dudududu seperti mati lampu, seperti mati lampu…# (tarik bwaanggg)

Segala hal tampaknya dipaksakan dari luar. Kita menyebutnya rutinitas. Padahal manusia harusnya merayakan kebebasannya dalam hal apapun, dengan kesadaran penuh. Kan De Mello juga sudah sangat jelas mencatatnya dalam Awareness, “Hidup yang tidak disadari, tidak layak untuk dijalani.” 

Ini menjadi langkah pertama untuk memahami. Sebaiknya antara saya dan pembaca harusnya sepakat dari awal bahwa tulisan ini bukanlah sebuah jawaban, melainkan rupa – rupa pertanyaan yang mungkin juga pernah mengambil alih sejenak isi benak Anda di sepanjang ‘Sela’ yang tengah berlangsung . Tujuan saya tak lain dan tak bukan, supaya kita tidak pernah benar-benar berhenti bertanya dan melihat ke dalam.

“Bukankah dengan bertanya kita dibantu untuk melihat segala sesuatu lebih dekat dan digiring untuk memahami?”

Suka atau tidak suka, setiap personal perlu untuk selalu mencari tahu bagaimana cara memperlakukan dirinya sendiri. Tentunya praktiknya berlaku tidak sama bagi setiap orang. Satu cara mungkin tampak mudah bagi seseorang namun tidak bagi yang lain. Cara yang mudah bagi saya belum tentu mudah bagi orang lain, begitu juga sebaliknya.

“Sebenarnya, apa yang membuat kita takut untuk berdiam diri dan menyelam menuju kedalaman diri sendiri?”

Bagaimana jika, di hadapan waktu, seolah-olah kitalah yang tengah mengolok-oloknya karena sanggup merasa cukup hanya dengan diri sendiri?

Bagaimana jika, kita yang menjadikan waktu merasa canggung dan pada akhirnya hengkang lalu menguapkan diri serupa kabut?

Saya pikir ini harusnya menjadi sebuah pertanyaan yang perlu diulang dan di serukan berkali-kali buat diri sendiri. Dan hal ini bukan sesuatu yang kita dapatkan melalui pengalaman orang lain, esensinya dirasakan bukan dari luar sana, melainkan di dalam sini.

Bersenang-senang lah merayakan SELA!

You had a busy day today

Tidak ada yang bisa menghalangi, jika sepasang kaki itu ingin pergi berjalan jauh meninggalkan. Apapun ceritanya mana mungkin menahan langkah-langkah itu untuk tetap tinggal. Belum pernah seseorang mengaku siap jika ditinggalkan namun siapa yang mampu melawan jika takdir sudah mengingatkan sedari awal bahwa pertemuan dan perpisahan itu adalah satu?
Awan-awan di depan mata sedang berarak, berpindah, digiring sang angin dari arah satu menuju arah yang baru.
Bukankah membosankan jika tinggal pada titik yang sama selamanya?
Bintang-bintang terlihat berseri, berkelap-kelip gemerlapan seolah-olah tak pernah gundah, seakan-akan tak ada kesedihan. Biarlah malam ini lagu-lagu pilihan pada playlist ‘tidur siang’ mengalun merdu mengiringi nyamuk-nyamuk tengil yang antri bergantian menerima donor. Terlihat daun – daun saling membelai, terdengar cabang – cabang saling beradu. Ah, yang kuat pasti tak mungkin menyusut. Tak mau kalah, sengaja bulan memilih menyabit, sedikit malu-malu banyak rindunya.

Bagaimana jika Kita yang menciptakan jalan?

Jakarta Barat, 1 November 2017.

 

Mereka menyebutku gila.“Kau tak waras, sudah kehilangan akal sehat,” ujar mereka. Teman-teman disekelilingku sudah kehabisan kata untuk pilihan yang telah aku buat saat ini. Bukannya aku tak mau berpikir ulang namun akal pikir dan batinku sudah terlebih dulu digumuli rasa antusias untuk melangkah menjauhi lengkung mainstream yang aku sudah rasakan selama berbulan-bulan belakangan. Aku tahu jelas bagaimana rasanya, dan aku juga sudah memutuskan- enggan melupakan setiap rasa getir yang aku alami saat melalui hari-hari yang berhasil membuatku kisut bak kulit jeruk nipis keriput. Aku baru 23, itu pun dua puluh dua hari lagi.

“Kau gila, G-I-L-A-A-K! Gila juga butuh modal,” kata Nju saat aku menceritakan rencana yang telah aku pikirkan belakangan ini.“Berhenti dari pekerjaanmu saat ini demi mengejar passion tanpa punya simpanan materi yang cukup sebagai modal bertahan hidup beberapa bulan ke depan itu tergolong dungu bukan hanya naïf lagi, Lynn”, sambungnya. Percuma namamu Marilyn, tapi otakmu tak berpikir secantik yang punya nama itu.

Aku Marilyn. Hanya Marilyn tanpa Monroe, Nju. Ayolah, kita baru 23, kau lewat tiga bulan dan aku baru genap pada dua puluh dua hari mendatang. Aku datang mengunjungimu bukan untuk digurui olehmu. Kita sepaham kalau hidup bukan melulu soal makan. Aku tidak takut kelaparan dan Tuhan itu Maha, bukan? Pastilah Dia memelihara dengan caranya, melalui apa pun dan siapa pun. Urusan perut sejengkal itu gampanglah diurus-Nya.

Iya Tuhan itu memang Maha. Maha seenaknya, seenaknya memberi, seenaknya mengambil. Dia memberi kita orang-orang untuk kita sayangi dan Dia juga yang mengambil mereka dari sisi kita. Seenaknya Dia, ujarnya. Dia terbawa perasaan kalau diungkit kata “tuhan” sebab belum berselang lama orang terpenting dalam hidupnya berpulang kepada Tuhan.

Aku hanya ingin adil pada diriku sendiri, Nju. Jiwaku kehilangan gairahnya. Mataku tak bersinar setiap kali melakukan tugas-tugas dalam pekerjaan itu. Aku sudah mencoba untuk menikmatinya dan mensyukuri setiap batang hari yang datang silih berganti. Bahkan aku menyadari betul bahwa hari ini merupakan jawaban dari doa-doaku di hari-hari kemarin. Namun seberapa keras aku telah mencoba, lagi-lagi aku gagal menikmatinya. Alih-alih menikmati, aku harus menyeret diriku setiap pagi untuk bangun bahkan mensugesti diriku bahwa aku mampu menjalani hari ini. Namun di penghujung hari yang ada hanya derai-derai tangisan batin di dalam keheningan. Aku tidak dimaksudkan untuk pekerjaan ini dan sebaliknya. Bukan salahku ataupun pekerjaan ini, hanya saja kami benar-benar tidak dimaksudkan untuk satu sama lain.

Aku hanya ingin menata diriku kembali. Setiap kali aku bercermin semakin pula aku tidak mengenali sosok yang dipantulkan oleh cermin itu. Kau tak lihat, penampilanku sekarang sudah tak mencerminkan usia kita saat ini. Aku layaknya ibu dengan tiga orang anak lanang, tak lagi bersemangat dan sayu. Bak mawar yang layu sebelum berkembang karena digerogoti durinya sendiri.

Sebenarnya aku tak hanya sekedar ingin mengejar impian yang kita agung-agungkan dulu di bangku sekolah menengah. Ini bukan hanya perihal passion. Ada hal yang berubah tentang caraku memandang segalanya karena per·spec·tive baru yang terasah oleh hal-hal yang aku sendiri alami atau terjadi di sekelilingku. Entah, dunia ini tampak asing bagiku, entah, atau aku yang sudah tak lagi sama.

“Lalu apalagi rencanamu setelah penantian resign-mu terpenuhi?” tanya Nju.

Rencananya adalah aku tak punya rencana, jawabku. Aku hanya ingin benar-benar menikmati setiap harinya, tidak ada perasaan terpaksa. Aku benar-benar ingin mendengarkan setiap pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari kedalaman jiwaku.

Aku ingin pergi melangkah ke tempat aku ingin pergi. Aku ingin mengamati orang-orang yang berlalu dari balik kaca-kaca busway, pada setiap halte pemberhentian, pada kereta-kereta maupun stasiun-stasiunnya yang tak pernah sepi hingga larut malam.

Aku suka mengamati punggung orang-orang yang lalu-lalang pada tempat-tempat umum itu dan membiarkan diriku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tentang ekspresi wajah apa yang ada dibalik punggung itu, apakah kelelahan seorang sarjana muda yang sudah mondar-mandir mengantarkan curriculum vitae dari perusahaan satu ke perusahaan lain, sebuah kecemasan seorang ibu muda yang terlambat menjemput anaknya yang baru hari pertama masuk sekolah dasar, senyuman manis dari seorang wanita yang menerima pesan WhatsApp dari pacarnya, atau raut wajah yang serius pada wajah seorang gadis remaja yang duduk pada urutan bangku busway paling depan bersebelahan dengan jendela dengan buku The Alchemist-nya. Gadis itu mungkin sedang bertanya-tanya apa yang menjadi legenda pribadinya. Aku merindukan semua hal–hal tadi, hal yang tidak bisa aku peroleh selama hampir setahun ini karena rutinitas kehidupanku enam hari dalam seminggu hanya sebatas rumah pondokan dan kantor yang jaraknya tak lebih dari lima belas menit berjalan kaki.

Aku mencoba melepaskan setiap hal yang telah mengikatku selama ini tanpa izin atau dengan se-izinku. Aku ingin bebas lagi. Anggap saja aku sedang mendefenisikan kehidupan itu sendiri dengan defenisiku. Tiga hal ini yang sedang aku minta diajari oleh kehidupan padaku, dengarkan:

AJARI AKU

Ajari Aku

Untuk mengeja perjuangan, harus terbata-bata dulu  pada huruf-huruf ketekunan

Ajari Aku

Untuk memahami  bahwa pelangi tanpa hujan, adalah mustahil,

AjariAku
Untuk menemukan, didahului kehilangan.

Dengan nyaring kubacakan beberapa baris puisi itu dihadapannya. Nju terpelongo. Tanpa mengomentari apa-apa, dia bersiul dan langsung bernyanyi,“ When she was just a girl; she expected the world; but it flew away from her reach; so she ran away in her sleep,” dan pada suasana yang seperti de javu itu itu mengalunlah “Paradise” dengan sangat merdu bagai nyanyian sang malaikat.

Kau tahu, Lynn, seperti yang kau katakan tadi entah dunia ini yang menjadi asing atau kau yang tak lagi sama. Tapi ada satu yang selalu sama darimu, ada bagian darimu yang dari awal perkenalan kita membuatku tertarik seperti sebuah daya magis namun aku tak pernah bisa untuk mendeskripsikannya menjadi sebuah kata.

Apakah itu sebuah pujian, Nju? tanyaku kesenangan. Dia tidak mengiyakan. Pertemanan kami memang aneh sejak awalnya. Kami jarang memberi pujian satu sama lain. Kami juga tidak pernah memberikan hadiah pada setiap moment-moment penting. Kami bahkan jarang berfoto bersama, kami hanya punya tiga buah foto selama sebelas tahun pertemanan kami. Kami juga tidak suka membahas latar belakang keluarga kami masing-masing. Pada setiap  pertemuan, yang kami sering angkat keseringan perihal impian-impian kami kedepannya, para pelaku seni yang kami idolakan, dan manusia-manusia layak mana yang kami pantas anugerahi nama seniman dengan inspirasi karya-karyanya. Selebihnya kami akan mengamati lalu-lalang orang-orang dengan tingkahnya yang berlalu melewati tempat kami duduk menongkrong. Seringkali kami menyusun kisah dengan materi sesuai raut wajah dari lalu-lalang orang-orang tersebut dan berujung pada tawa lepas yang terbahak-bahak. Pertemanan kami aneh namun entah apa yang membuatnya tumbuh hingga belasan tahun.

Aku manusia, Nju. Aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri. Bukannya tidak rasionalis, siapa yang tak butuh uang, tapi aku bukan hanya makhluk ekonomi. “Aku manusia Nju”, tegasku sekali lagi. Aku tidak tahu apakah sekarang aku sedang menghakimi. Namun, ini bukan kehidupan yang ingin aku banggakan. Kejenuhan melanda ketika aku harus mengerjakan hal-hal yang tidak aku minati dan hari-hari liburku harus didikte oleh tanggal merah di almanak. Aku benci didikte, Nju. Hatiku terasa terperas dengan rasa yang kian waktu membuatku tak nyaman.

“Huh, apa kau baru menyadari persoalan dikte-mendikte, Lynn?”tanyanya. Itu sudah cerita klasik. Sangkin klasiknya orang-orang menganggap hal itu lumrah, sudah biasa. Berapa banyak orang-orang masa kini menghidupi hidupnya, Lynn? Bisa terbilang Lynn, orang-orang yang betulan menjadi manusia, mencari tahu makna hidup dan memaknainya. Kebanyakan orang memilih menjadi robot, masa depan mereka dipilihkan dan mereka diberi “ramuan ajaib” untuk mengiyakan semua aturan-aturan tanpa sekalipun mempertanyakan kebenarannya, mengikuti mainstream istilahnya. Mau enggak mau kita juga terseret ke dalamnya, sebab kita berada di zaman ini dan tumbuh besar bersama mereka. Orangtua mendikte masa depan anaknya, pemerintah mendikte peraturan-peraturan buat warganya, para bos mendikte budaya-budaya kerja bagi buruhnya. Area mana lagi dari masyarakat ini yang belum diprogram dikte emangnya? Bahkan kau sadari saja atau tidak, menu makananmu saja sudah didikte Lynn. Kalau mau lengkap ada nasi, lauk-pauk dan sayur mayurnya dalam ukuran jumbo, tersedia Paket A, untuk nasi dan lauk pauk saja silahkan pilih Paket B, untuk sayur-mayur tanpa nasi dan lauk, hanya dengan tambahan sedikit micin, ambillah Paket C. Sudahlah, lupakan untuk menjadi berbeda, ikuti saja aturan mainnya. “Kita kalah, Lynn,” bisiknya.

Tapi Nju, sanggahku, “apa kau ingat bait-bait puisi ini?”

*)  I shall be telling this with a sigh

    Somewhere ages and ages hence:

   Two roads diverged in a wood, and I…

   I took the one less traveled by,

  And that has made all the difference.

“Aku baru 23, Nju, itu pun genap dua puluh dua hari mendatang”, bisikku.

Catatan:

*) Puisi The Road Not Taken Karya Robert Frost

Rumah Neraka dan Mata Merah

Cerpen,  (16 Oktober 2017)

 

Panggil aku Tari. Anak tengah dari tiga bersaudara. Nama penuhku sebenarnya Mentari Nurcahaya. Tapi aku tidak pernah suka untuk memanjangkannya. Jika kalian melihat kehidupanku, pasti kalian tidak lagi mempertanyakan alasan mengapa aku lebih suka hanya dipanggil Tari. Sebab tidak ada satu haripun dalam hariku secerah cahaya mentari, sampai hari keselamatan itu tiba, hari dimana Jude mengulurkan salah satu kakinya padaku.

Bapakku seorang pemabuk, kelas profesional, dari jamannya Ia remaja. Sementara Ibuku pedagang kaki lima di pasar dekat rumah. Sehari-harinya Ibu harus bangun setiap pukul 03.00 pagi. Memasak, beres-beres rumah, dan menyiapkan segala barang dagangannya untuk dibawa ke pasar. Kalau aku jadi Ibu, sudah lama aku meninggalkan keluarga ini dan pergi mencari kebahagiaan sendiri. Untuk apa bertahan pada keluarga yang menjadikannya tak lebih hanya seorang budak. Hari-harinya habis diisi dengan mengerjakan pekerjaan rumah dan mencari nafkah menggantikan suaminya yang tidak produktif.

Aku berusia enam belas tahun. Usia dimana anak-anak sebayaku sedang membutuhkan segudang penuh perhatian dalam pencarian jati diri dan makna  hidup dan sedang asik-asyiknya bermimpi tentang masa depan, dua buah kata ajaib yang sering diulang dibangku sekolah saat kelas Bahasa.  Namun dengan kondisi keluarga yang seperti ini, memaksaku untuk berpikir berbeda. Otakku harus berpikir keras. Pertanyaan demi pertanyaan menggumpal memenuhi pikiranku. Bukan pertanyaan tentang kemana aku harus melanjutkan sekolah, apa yang menjadi impianku dan bagaimana mengenali potensi – potensi yang katanya sudah Tuhan anugerahkan pada setiap orang sewaktu masih didalam kandungan.

Aku malah terjebak pada pikiran bagaimana untuk cepat-cepat keluar dari rumah neraka ini, bagaimana untuk menutup mata dan berpura-pura untuk tidak melihat bahwa ibu menangis diam-diam di sudut kamar setiap kali habis dipukuli bapak. Aku tidak tahu mengapa bapak dan ibu guru di sekolah mendidik supaya setiap murid menghormati kedua orangtuanya. Aku juga tidak tahu apa yang menjadi rumusan buku-buku teks itu disusun sehingga mengagung-agungkan jerih payah seorang ayah yang menjadi tulang punggung dan imam bagi sebuah keluarga. Sebab yang kudapati sangatlah berbeda pada kenyataanya.

Sosok bapak yang aku lihat malah lebih seperti anjing gila. Setiap hari marah-marah minta duit buat berjudi. Semua hasil dagangan ibu diminta secara paksa untuk diberikan padanya. Pagi sampai siang kerjanya cuma tidur. Menjelang malam, Ia keluar menuju warung kopi tempat biasanya kumpul berjudi. Setiap kalah berjudi, Ia pasti akan pulang dalam keadaan mabuk. Matanya memerah seperti mata Jude si anjing ras Belgian Malinois peliharaaan tetangga kami jika merasa terusik oleh siapapun. Ia akan berteriak keras-keras sambil mengumpat ibu, sedangkan aku, dan adikku akan berdiri gemetaran sambil mengintip dari pojok kamar. Bahkan tak lupa air kencingnya juga ikut mengangkuhkan diri, membasahi celana jeans biru  kesayangannya. Mendengar teriakkannya setiap malam kalau mabuk, Jude pun akan ikut-ikutan untuk menggonggong dari pagar rumah majikannya. Rasaku tak jarang pula para tetangga ikut mengutuki keluarga kami dari dinding kamarnya akibat keributan yang dibuat bapak. Aku ingin sekali segera keluar dari rumah ini tapi tak tega kalau harus meninggalkan ibu dan adik kecilku. Aku kasihan pada adikku yang baru berusia enam tahun. Mental anak seusiaku saja tak tahan menghadapi pengalaman begini setiap hari, apalagi anak sekecil dia.

Sudah sepanjang ini aku bercerita mengenai bapak ibu, aku dan adikku. Apakah ada yang bertanya-tanya tentang kakakku? Nama kakakku Lara Riati. Kami memanggilnya Kak Lara. Sengaja diberikan nama Lara karena memang kelahirannya menambah susah keluarga. Kak Lara satu-satunya anak Ibu yang lahir di rumah sakit karena harus lahir secara caesar.  Untuk makan sehari-hari saja kurang, Ia malah memilih untuk lahir secara mahal. Namun hidupnya saat ini sudah lebih baik ketimbang kami, sebab Ia tak perlu lagi setiap malam melihat mata merah bapak yang seperti anjing gila itu. Ia berusia sembilan belas tahun saat bapak menjodohkannya dengan juragan tanah yang datang dari kota. Ia menjadi istri siri si tuan takur. Kisah siti nurbaya itu memang masih berlaku hingga era-nya siti nurhaliza pada saat ini. Pernikahan bukan didasari komitmen dan rasa cinta dari kedua pasangan pengantin, namun asal sudah mengantongi persetujuan dari salah satu pihak keluarga saja sudah cukup. Awalnya kak Lara menolak dan menangis memohon pada bapak agar mengurungkan niatnya. Namun apa daya, mata bapak terlanjur merah melihat uang yang ditawarkan sang juragan. Aku ingat ibu berkata kepada kakak, “Sudahlah Lara, turuti saja kemauan bapakmu. Menikahlah dengan tuan takur itu daripada berakhir seperti Ibu. Pernikahan bapak dan ibu pada awalnya didasari cinta, namun kehidupan ini keras, hingga terakhir cinta itu pun harus diobral”. Akhirnya kakak pasrah pada jalan yang ada dihadapannya, dan tak berani lagi bersikeras untuk mengambil jalan yang ia inginkan. Pada hari pernikahannya, sejak hari itu ia melangkahkan kaki keluar dari rumah neraka ini dan tidak pernah kembali lagi.

Lalu sekarang giliranku. Pikiranku berupaya keras memikirkan cara untuk berjalan keluar dari rumah neraka ini. Tapi aku tidak tega membiarkan Ibu dan adik kecilku tetap terkurung didalamnya. Hingga hari itu tiba. Ada satu cara yang sudah lama berdiam didalam benakku. Dan dari beragam cara yang telah aku pikirkan, cuma satu cara ini yang berhasil menghantui pikiranku dari hari ke hari, dan cara itu membawa Jude sebagai tokoh utamanya, anjing bermata merah peliharaan tetanggaku, yang terinspirasi dari salah satu lagu band legenda favoritnya, The Beatles.

Siang itu aku menghampiri pagar besi tempat Jude dirantai. Aku memandang matanya yang berubah memerah karena merasa terusik oleh tatapanku. Mulutnya terbuka dan kedua taringnya tampak kuning mengkilap. Jude balik menatap, tepat pada kedua bola mataku. Sepertinya ia mengetahui apa yang ada dalam pikiranku. Aku menatapnya terus sambil mengulang-ulang mengucapkan kata maaf di dalam hatiku. Ia mengulurkan salah satu kakinya kearahku seperti menyetujui keputusanku. Siang berlalu menjadi sore yang hening dan malam yang sepi segera menyusul. Ada perasaan yang berbeda yang disuguhkan semesta pada malam hari itu. Tidak ada teriakan keras Bapak malam itu. Tidak ada suara gonggongan Jude malam itu.

Suara sirene polisi memecah pagi di kampung kami hari itu. Jude ditemukan mati terkapar. Di sebelahnya bapak tergeletak setengah sadar memegang kayu berlumuran darah. Tetangga kami geram bukan main, marah-marah sambil memaki bapak dan minta petugas polisi segera mengamankannya.

Aku lupa bercerita pada kalian, kalau Jude sudah dianggap seperti seorang anak oleh tetangga kami. Jude, jenis anjing yang sangat setia, dan sudah menjadi bayangan dari tuannya, Jude selalu dibawa waktu tuannya lari pagi, ataupun sedang duduk membaca. Tidak jarang juga ia dibawa sewaktu tuannya mampir ke kamar kecil bahkan mereka berbagi makanan yang sama.

Bapak diangkut paksa ke mobil petugas dalam keadaan terhuyung-huyung. Ibu menangis tanpa mengeluarkan sepatah katapun sambil memandangi wajah bapak yang berlalu dibalik kaca mobil petugas.

mīˈself,mə-

 

ys
Pernah seseorang bertanya padaku mengenai hal apa yang tidak aku sukai selama aku dibesarkan di lingkunganku. Mengingat banyaknya rasa nyaman yang aku terima selama ini, sangatlah mudah untuk melontarkan jawaban “tidak ada”. Jawaban tersebut bukan berarti seiring perjalananku, aku tumbuh mulus tanpa memar yang membekas.
Omong kosong jika aku mengelu-elukan kesempurnaan.

Perkara malam rabu kemarin membuatku kembali terhubung dengan anak kecil di dalam diri. Rupanya kejadian tersebut berhasil menjadi saluran tempat ingatan – ingatan itu membesarkan diri. Berjalannya waktu, aku lupa bahwa ternyata ada hal yang selalu tinggal dan tak mau pergi dari pikiran tiap – tiap orang, mengendapkan diri di alam bawah sadar, sampai ada yang membangunkan tidurnya lalu memaksanya kembali berenang ke permukaan.

Ternyata benar, tekanan yang benar pada tempat yang salah mampu menghasilkan memar. Perbincangan malam itu menimbulkan perkara. Aku tidak dikenal sebagaimana aku mengenal. Dan itu mengecewakan.

Pada akhirnya, memang hal yang paling asyik adalah menjadi diri sendiri.
Pada akhirnya, memang hal yang paling asyik adalah menjadi diri sendiri.
Pada akhirnya, memang hal yang paling asyik adalah menjadi diri sendiri.

Teruntuk aku :

Terima kasih pada satu-satunya yang selalu ada dari permulaan hingga nanti pada kesudahan.

 

 

 

Kepada Scorpiusku

 

 

Scorpius kecilku,

Aku menuliskan ini sebagai alternatif lain dari sebuah surat yang mungkin sudah konservatif di era ini.

Aku menyertakan lagu diatas sebagai cara untuk menyampaikan apa yang tidak bisa aku katakan secara langsung padamu.

Scorpius kecilku,
Jika kau ingin, kapanpun kau bisa menjadikanku Pil tidurmu!

Anak itu memilih lahir sebagai seorang Scorpius. Dilambangkan oleh seekor kalajengking, punya kaki delapan, dan sangat kuat. Aku mengatakan ini bukan berarti aku mempercayai ramalan zodiak,  hanya saja jika ingin mendeskripsikan nya, gambaran kalajengking tadi tepat buat karakternya.

Sejak dalam kandungan, dia memang sudah tampil berbeda. Mama mengakui hal tersebut. Orang tua zaman dulu, tidak concern buat mengikuti  pemeriksaan USG untuk mencari tahu apa jenis kelamin calon bayinya. Mama hanya menebak-nebak dari kejanggalan-kejanggalan yang mama rasakan selama mengandung.

Jika dulu saat mengandung aku mama cuma ngidam ‘sate padang’, namun saat mengandung dia mama sangat antimainstream, ngidam ‘merokok’.

Mama tidak pernah merokok, hanya memikirkan batangan itu terselip pada sela jari telunjuk dan jari tengahnya saja pasti sudah sangat janggal. Namun,’ bawaan baby ,’ ya mau gak mau, ya tetap dicoba. Ditambah lagi ucapan dari mbah tukang urut yang terdengar meyakinkan, “ini nih bayinya pasti lanang, lihat aja posisi perutmu rendah.”

Mama tersenyum aja. Tapi di dalam hati ia juga mengamini semoga bayinya laki-laki. “Biar sepasang”, pikirnya. Namun selain mengamini hal itu, baik kelak bayinya laki-laki atau perempuan, bagi Mama, seorang anak bagaimanapun bentuknya tetaplah sebuah anugerah.

Meskipun sepakat setiap anak adalah anugerah, Bapak juga tidak serta merta abai. Kerinduan hatinya memiliki anak laki-laki saat itu sangatlah besar.

Sembari merenungkan tanda-tanda yang ada, ia memikirkan sebuah nama. Seberapapun keras ia mencoba berpikir fair, yang mendominasi benaknya tetaplah nama seorang anak laki-laki. Ia menyimpan satu nama di hatinya, nama tersebut bermakna ‘Api’.

Ternyata realita berkata lain, yang lahir adalah bayi perempuan. Waktu itu bulan Oktober. Dalam Kalender Liturgi Katolik, Oktober ditetapkan sebagai bulan Rosario yakni untuk mengenang kekuatan berdoa kepada Allah melalui Sang Perawan Maria dengan sarana rosario di tangan.
Setelah memikirkannya secara mendalam, akhirnya Bapak memutuskan untuk memberi nama tengah bagi nya yakni ‘Maria.’ Selain tidak punya pilihan karena nama depannya sudah nama anak laki, Bapak juga ingin bayi perempuannya kelak tumbuh menjadi perempuan setulus sekaligus setegar Maria.

Bapak ingin jika ia menyandang nama itu, kelak ia boleh menjawab panggilan Allah dalam hidupnya setulus Maria menjawab panggilannya, ” Sesungguhnya, Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan Mu.”

Bapak juga ingin, sebagaimana Maria mampu tegar sekalipun harus menyaksikan derita anak terkasihnya melalui jalan dolorosa, begitu pula bayi perempuannya, Ia harapkan supaya mampu tegar dan memilih untuk tidak melarikan diri dari apapun persoalan hidupnya kelak.

Demikian ia dinamakan.

23 tahun berlalu.

Scorpius itu telah menjadi dewasa namun terjebak dalam labirin buatannya sendiri.

Ia membangun dinding-dinding labirinnya sendiri. Ia menutup diri dan menjauh dari dunia yang tampak asing baginya. Ia selalu merasa dirinya bukan bagian dari dunia, hingga akhirnya Ia tertidur sampai lupa bahwa dirinya Scorpius.

Ia lupa, Scorpius memiliki kemampuan beradaptasi yg tinggi pada kondisi ekstrem, yg seharusnya mampu ia gunakan buat menghadapi dunia yang tampak asing tadi.

Ia lupa, bahwa Scorpius diperlengkapi dengan sengatan sebagai senjata, yang artinya Kekuatan itu ada dalam dirinya sendiri.

Dan yang paling Scorpius tidak ingat bahwa ia mampu bercahaya di dalam kegelapan dan satu-satunya cahaya itu adalah dirinya sendiri, satu-satunya yang akan menuntun dirinya sendiri keluar dari jebakan labirin tersebut.

Merayakan Kehidupan

20191212_181412

Aku sengaja membiarkan gelombang suara Bono menjadi yogurt plain bagi telingaku hari ini. ‘Love is bigger than anything in its way’, desahnya. Semenjak pagi tadi, kata-kata bermilitan menyusun dirinya dalam pikiranku dan mendesak untuk diproklamasikan.

Kejadian kecelakaan yang saya alami rabu sore kemarin ternyata mampu memberikan sedikit sengatan hingga kata-kata tersebut akhirnya mengibarkan bendera putih serta merta menyerahkan diri dan keluar dari gua persembunyian mereka yang entah dimana sekian lama ini. Aku tidak ingat sama sekali bagaimana posisi jatuh kemarin, yang membekas di ingatan hanyalah bagaimana aku sekuat tenaga menarik kedua rem tangan sepeda besiku di aspal licin saat langit sedang berhujan, merasakan kedua rodanya berputar tidak karuan untuk menghindari seorang pria yang melakukan u – turn mendadak di tempat yg tidak seharusnya. Aku kehilangan keseimbangan dan berakhir dengan jatuh berpelukan bersama sepeda besiku. Kaca helmet terlepas dan barang-barangku berserakan di jalanan. Pria tersebut tertegun karena shock namun tidak mengulurkan bantuan. Aku bangkit sendiri, seperti tokoh heroik Marvel yang tak mungkin mati hanya dengan sekali hantaman. Tak ada rasa sakit pada sekujur tubuhku sehingga aku masih meneruskan perjalanan menuju tempat yoga ku. “Aku harus tetap mengikuti kelas hari ini”, pikirku. Aku mengendarai sepeda besi yang sudah tidak fit lagi.

Hujan masih terus meluncur, sampai akhirnya aku merasakan perih. Kaki kiriku berdarah. lutut kiriku memar dan akhirnya menyadari bahwa dua lapis celana yang kupakai sudah sobek. Aku memutuskan berhenti lalu putar balik menuju rumah. Tapi sepeda besiku sungguh sudah ‘sakit’. Sesegera mungkin aku membawanya untuk mendapat pertolongan pertama. Dokternya mengambil alih, aku dipersilahkan menuju ruang tunggu. Sembari duduk, di sana aku menyadari banyak hal. Ingatan-ingatan saat aku beberapa kali bersinggungan dengan kematian bermunculan. Pada moment itu juga satu ayat pada Surat Petrus pun ikut bersuara, ‘Sebab: Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunganya pun gugur (1 Petrus 1 :24). Aku telah melakukan banyak hal dan juga mengira-ngirakan banyak hal yang akan aku peroleh ke depannya, namun bukankah jika sudah genap waktunya, segalanya akan berlalu?

Seringkali aku mencari hal atau alasan apa yang membuatku perlu menyampaikan rasa syukur pada satu waktu. Selama ini, aku terbiasa membuat ukuran-ukuran supaya hal yang ini, atau hal yang itu layak untuk disyukuri. Ternyata, kehidupan itu sendiri sudah cukup menjadi sebuah alasan mengapa perlu untuk mengucap syukur setiap hari. Waktu untuk hidup memang terbatas, namun keterbatasan itulah yang seharusnya mengajarkan bahwa satu hari pun tidak boleh berlalu sia- sia.
Carpe Diem,” katanya.

Setiap orang memiliki kisah hidup pribadi dan setiap kisah dilukiskan berbeda oleh kehidupan bagi masing-masing orang. Aku telah memikirkannya, menjadi dewasa, setiap pertumbuhannya akan bersinggungan dengan banyak hal-hal yang menyulitkan. Ada banyak melodrama dalam kisah hidupku. Seperti kehilangan satu-satunya pamanku dengan cara yang tidak layak, mengetahui bahwa seorang bibi ku menderita gejala Alzheimer, bahkan nyaris celaka dalam beberapa moment. Tetapi bahkan jika tidak demikian melodramatik, setiap orang, pada tahap tertentu dalam hidupnya, akan berurusan dengan hal-hal yang menyulitkan, dengan kesedihan, dan dengan bahaya-bahaya dalam hari-harinya entah oleh karena kelalaian diri sendiri maupun disebabkan oleh orang lain.

Kita cenderung menganggap bahwa sesuatu disebut agung adalah ketika banyak hal-hal hebat dan heroik yang sudah dilakukan. Kecelakaan ini membuatku berpikir, ternyata mengubah kesedihan dan menjadikannya sebuah pelajaran untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya sudah benar-benar menjadi sebuah harapan. Kecelakaan telah bertransformasi menjadi tindakan yang menghasilkan rasa syukur. Bukankah ini sudah cukup untuk disebut tindakan agung yang diajarkan oleh Kehidupan?
Mari rayakan kehidupan!