Hai, Gadis kecil pendiam …

Bagaimana rasanya ikut berlabuh di atas kapal besar?

Maaf, aku tidak bisa bersamamu, selain jauhnya jarak, sekarang aku sibuk.

Kali ini, kau diminta menahan rindu dalam pengertian dan ruang tunggu.

Rentangkan saja tanganmu dan bermain lah dengan angin laut.

Pasang telingamu, dengarkan bisikan – bisikan deru ombak.

Bintang-bintang akan menaungimu dan menghangatkan hatimu.

Jika bosan, tutup saja kedua matamu dan rebahlah.

Malam ini tidak akan ada lagu pengantar tidur.

Hai, gadis kecil pendiam …

Esok putuskanlah, masih ikut berlabuh atau pulang?

DIRI

Diri, maafin ya
Tadi malam bulir-bulir air berjatuhan di pelupukmu
Bukan aku tidak coba, tapi airnya deras dan sulit untuk aku hentikan ..
Diri, maafin ya
Jika berderai seperti itu, berarti tadi malam hatimu sungguh benar-benar sakit.
Ayolah, tak usah malu, aku mengenalmu ..
Diri, maafin ya
Tak bisa ku janjikan, akan tidak ada lagi malam seperti tadi malam untuk hari berikutnya
hanya saja mari kita coba hitung,
ada berapa banyak malam yang telah kita lalui tanpa bulir-bulir air di pelupukmu ..
Diri, maafin ya
Aku hanya seorang biasa, bukan yang paling maha ..


Tuhan, tidak berjeda kah?

2 Korintus 1:8 (TB) … ” Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami.”

Tuhan, tidak berjeda kah bagi kami realita – realita ini?

Yang sedang terjadi ini, tidak dapat kami baca dan pahamkan.

Terlalu serampangankah tindakan kami selama ini?

Karena yang kami takutkan, itulah yang menimpa kami, dan yang dicemaskan, itulah yang mendatangi kami.

Apakah kekuatan kami, sehingga kami sanggup bertahan, dan apakah masa depan kami, sehingga kami harus bersabar?

Kepada kami ditentukan, bulan-bulan yang sia-sia dan malam-malam penuh kesusahan.


Oleh sebab itu kami pun tidak akan menahan mulut kami, kami akan berbicara dalam kesesakan jiwa kami, dan mengeluh dalam kepedihan hati kami.

Bilakah Engkau mengalihkan pandangan-Mu dari pada kami, dan memberikan kami jeda, sehingga kami sempat menelan ludah?

Akan tetapi padaMu lah hikmat dan kekuatan, Engkau lah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.

Inner-needs yang tak kunjung aku sadari

Ada kesedihan yang mendalam dan kekecewaan pada diri sendiri apabila orang – orang terdekatku meminta sesuatu daripadaku namun aku tidak dapat memenuhinya. Bukan karena aku pelit, namun karena saat itu aku tidak memiliki kapasitas untuk menyediakannya. Biasanya untuk menyembunyikan perasaan sedih itu aku akan marah – marah dan mengeluarkan pernyataan yang pasti menyakiti hati orang tersebut. Aku marah sebagai respon rasa bersalahku pada orang tersebut sebab aku merasa menjadi hambatan bagi orang tersebut sehingga ia tidak bisa mendapatkan sesuatu yang ia butuhkan. Hal ini sudah aku amati berkali -kali di diriku. Ternyata deep inside, alam bawah sadarku ke trigger moment childhood dulu. Rasa sakitnya berenang kemabali ke permukaan. Aku terbiasa harus menahan dan tidak mengutarakan banyak hal yang aku inginkan, ya lagi lagi karena aku melihat sikon saat itu. Aku menyamakan posisi dan rasa sakit orang tersebut adalah aku. Gejolak rasanya beradu keluar. Dulu saat menginginkan sesuatu, entah itu barang atau ‘apapun’, seringkali aku harus memendamnya karena aku tahu kondisi orang tuaku saat itu tidak punya kapasitas untuk memenuhinya. Itulah mengapa kalau di tanyakan hal apa yang aku sangat tidak sukai adalah rasa ditolak. Aku tidak menyalahkan orangtua ku atas hal tersebut, karena memang hidup menuntut demikian, jadi ya, mau tidak mau. Aku menjadi protagonis dan sekaligus antagonis dalam kisahku sendiri. Seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa aku tidak pernah memperlihatkan perasaanku secara utuh. Seringkali aku hanya menahan semua perasaan dan emosi dan berakhir menanggungnya sendiri. Namun memang hidup demikian, mimpi indah sekalipun akan dibenturkan dengan kenyataan yang seringkali pahit. This is one complicated bitch.

Sebuah Peringatan : Menjadi Saya

“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Mi. 6 : 8

Tak hanya gendang telingaku, lagu dari penyuara telinga yang ku pasang terasa menghantam jauh sampai ke hatiku. Belakangan kusadari, ternyata hidup sering kali menawarkan kenangan sembari menyuguhkan renungan. Mungkin, agar aku mengenakan kerendahan hati sebagai pembungkus dari semua karakter, untuk menerangi dan menggarami, untuk memberi warna yang berbeda supaya aku tidak menjadi sama seperti dunia.

Tuhan, kapalku karam. Aku menulis sembari derai-derai air mata mengaliri pipi. Benarkah, hidup hanya menunda kekalahan? Padaku, tiada lagi yang tersisa kecuali Engkau.

20/12/21.

27 DI DALAM SEBUAH SURAT


Menjelang ulangtahunnya yang keduapuluhtujuh di 33 hari mendatang, waktu itu 1994, perempuan itu merasakan sekujur tubuhnya kram dan nyeri, rasanya tidak nyaman seperti ada gelombang yang seolah bergerak dimulai dari bagian atas rahim hingga menjalar ke bawah rahim. Tick, Tick, Tick.. Terasa ada yang menetes, ternyata cairan ketubannya sudah pecah. Hari itu Rabu, sekitar terik hari. Perempuan itu melahirkan seorang bayi perempuan. Dia dan bayinya dalam keadaan sehat.

Tick, Tick , Tick.. Terasa air mata turun dari pelupuk mataku mengenai permukaan kasur.
Suara tetesannya keras terdengar. Menjelang ulangtahunku yang keduapuluhtujuh aku kehilangan banyak hal. Relasi-relasi yang terbangun bertahun-tahun hancur dalam semalam. Target dan semua rencana yang tersusun sedemikian rapi pun rusak berantakan. Sekarang aku tidak memiliki apapun kecuali sebuah surat untuk duapuluhtujuh tahunku. Hari ini Rabu, sehari setelah hari lahirku, di sekitar langit terlihat mendung.
Aku adalah bayi perempuan yang dilahirkan dua puluh tujuh tahun yang lalu. Ibuku sehat namun aku sedang sakit.


Goodbye, Hello, and Everything In Between

Maturity is when you have the power to destroy someone who did you wrong, but you just breathe, walk away, and let life take care of them,” Kata Hugh Jackman,. Pesan ini terdengar brengsek karena saya seolah dipaksa untuk memaklumi kesalahan seseorang atas saya sekalipun saya berhak melakukan perlawanan. Namun betapa pun brengseknya, saya sungguh menyukai isi pesan ini dan malah sudah saya patri dalam pikiran dan hati. Semuanya tidak lagi perihal mata diganti mata, gigi diganti gigi, tetapi perihal memberikan pipi kiri, menyerahkan jubah, dan berjalan bersama sejauh dua mil.

Anda, saya, saudara, dan siapapun mungkin pernah bertemu orang-orang di sekitar circle kita yang berperilaku fake. Seolah-olah tampak peduli ternyata punya tujuan untuk memanfaatkan. Berlaku layaknya sekutu ternyata menjadi musuh dalam selimut. Terkesan simpatik ternyata beraksi untuk mencapai kepentingannya. Berkomentar atas pencapaian, penampilan, pendapatan dan banyak hal tentangmu dengan nada negatif namun merasa seolah-olah mereka telah menjadi pahlawan yang menyelamatkanmu dari bahaya. Orang-orang ini bukan pahlawan melainkan pecundang. Jangan biarkan dirimu menjadi korban apalagi kalau kamu tahu bahwa dirimu tidak seperti yang mereka yang bicarakan. Mereka tidak pernah mandampingimu dengan tulus. Jangan biarkan perilaku dan perkataan mereka menjadi cermin yang kamu pakai untuk memandang dan mendefenisikan dirimu. Kamu adalah berlian, sekalipun mereka menganggap mu taik kucing. Masalahnya ada di mereka bukan padamu. Pada saat kepalsuan mereka terbuka dihadapanmu, itu artinya part dan timing mu berada di sekitar mereka telah selesai. “..., but you just breathe, walk away, and let life take care of them.

She’s more than some pretty face beside a train



Sekalipun Ishak melihat refleksi dirinya ada pada Esau, tadah tangan berkat tidak menjadi milik Esau.

Sekalipun Ia menuntut, perayaan meriah hanya berlangsung sesaat sekembalinya si Bungsu, yang tersisa padanya hanya rasa iri nya.

Bukan Esau, juga bukan Ia, yang telah mengajukan diri.

Hak mereka sudah dipilihkan.

Dipilihkan,
Hanya karena memang Esau harus menjadi Esau,
dan Ia harus menjadi Ia.